Deprecated: Creation of dynamic property Flatsome_Envato::$slug is deprecated in /home/asisgcom/public_html/wp-content/themes/flatsome/inc/classes/class-flatsome-envato.php on line 47

Deprecated: version_compare(): Passing null to parameter #1 ($version1) of type string is deprecated in /home/asisgcom/public_html/wp-content/themes/flatsome/inc/classes/class-flatsome-upgrade.php on line 115

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/asisgcom/public_html/wp-content/themes/flatsome/inc/classes/class-flatsome-envato.php:47) in /home/asisgcom/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
psikologi anak – Asisya Consulting https://asisyaconsulting.com Biro Jasa Konsultasi Psikologi Thu, 22 Jul 2021 15:22:28 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.11 https://asisyaconsulting.com/wp-content/uploads/2014/03/cropped-favicon-32x32.png psikologi anak – Asisya Consulting https://asisyaconsulting.com 32 32 Pentingnya Mengajarkan Tiga Kata Ajaib Pada Anak https://asisyaconsulting.com/pentingnya-mengajarkan-tiga-kata-ajaib-pada-anak/ https://asisyaconsulting.com/pentingnya-mengajarkan-tiga-kata-ajaib-pada-anak/#respond Thu, 22 Jul 2021 15:22:28 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=497 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

Memiliki tata krama yang baik merupakan keinginan setiap orang tua pada diri anaknya. Pada dasarnya setiap anak terlahir dalam keadaan seperti kertas putih. Pendidikan atau ajaran orang tua dan lingkungan sekitar lah yang menentukan bagaimana perkembangan mereka.

Sahabat Asisya terutama para orang tua, tahukah kalian kalau mengajarkan tiga kata ajaib ini dapat membantu perkembangan terutama pada aspek sosial anak?

Tiga kata ajaib, apa itu?

‘Magic words’ atau ‘Golden words’ yang dalam bahasa Indonesianya ialah kata ajaib ini miliki peran penting dalam pengajaran terhadap anak.

Pada bahasan kali ini kita akan membahas tiga kata ajaib yang terdiri dari maaf, tolong, dan terima kasih.

Maaf

Belajar tentang kata maaf sejak dini akan membiasakannya untuk meminta maaf ketika ia melakukan kesalahan. Dengan begitu, kata maaf pada anak dapat membantu ia untuk belajar bertanggung jawab

Perlu bagi orang tua untuk mengajarkan pada anak bahwa mengucapkan maaf bukan berarti tanda kekalahan namun menunjukkan kuatnya karakter pada diri anak. Mengucap maaf untuk kesalahan yang dilakukan juga menumbuhkan kepercayaan pada orang-orang di sekitarnya.

Tolong

Kata tolong merupakan dasar dari perilaku sopan santun. Mengajarkan kata tolong pada anak menyampaikan rasa hormat pada seseorang. Mereka akan belajar untuk tidak seenaknya menyuruh seseorang melakukan sesuatu. Dengan begitu, anak pun kemungkinan lebih disukai sekitar dan orang yang dimintai tolong pun lebih bersedia membantu.

Terima kasih

Mengajarkan mengucapkan terima kasih menggambarkan rasa syukur atas suatu hal yang diberikan atau dilakukan seseorang pada mereka. Sehingga orang lain pun merasa dihargai atas perbuatannya dan memiliki kemauan untuk melakukan sesuatu untuknya di masa yang akan datang.

Kata ini pun dapat membuat anak untuk belajar menghargai kebaikan orang lain dan membantunya tumbuh menjadi orang dewasa yang rendah hati.

‘Terima kasih’ juga dapat menjadi bayaran atau reinforcement positif untuk anak setelah melakukan sesuatu.

Lalu bagaimana mengajarkan anak untuk melakukannya?

Dalam mengajarkan sesuatu pada anak pasti ada saja problematikanya. Terkadang anak menurut, di lain waktu menjadi pembangkang yang susah diatur. Maka di bawah ini ada beberapa tips yang dapat kamu coba lakukan, antara lain:

  1. Jelaskan arti setiap kata. Hal ini penting untuk dilakukan agar anak mengerti tujuan dan kapan harus mengucapkan kata-kata tersebut.
  2. Gunakan tiga kata ajaib pada keseharian anak-anak di rumah. Melakukannya terus menerus dengan praktik langsung membuatnya menjadi terbiasa. Perlu dicatat bahwa dalam hal ini, orang tua pun perlu melakukannya juga. Sebab anak merupakan peniru ulung, mereka mudah belajar dari apa yang dilihat untuk kemudian ditiru.
  1. Jangan memaksa dan ajarkan melalui cara yang menyenangkan. Memberikan pendidikan dengan cara memaksa tidak akan membentuk anak berperilaku sesuai dengan yang kita inginkan. Anak mungkin menerapkan tiga kata ajaib namun hanya ketika ada orang tua disekitarnya. Maka cobalah untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Hal ini dapat anda lakukan dengan bercerita yang memiliki pesan moral, melalui lagu ataupun permainan.
  1. Tegur anak jika lupa dan lakukan secara konsisten. Wajar jika anak lupa dengan apa yang diajarkan. Maka ingatkan mereka dengan baik-baik ketika mereka lupa. Jangan dibentak apalagi dihukum karena akan memunculkan rasa takut. Menerapkan tiga kata ajaib secara konsisten membantu anak terbiasa dan tidak lupa untuk melakukannya bahkan untuk lingkungan di luar rumah.

Itulah beberapa informasi yang telah dirangkum mengenai pentingnya mengajarkan tiga kata ajaib pada anak. Jika kalian masih memiliki pertanyaan terhadap psikologis tumbuh kembang anak, maka kalian dapat melakukan konseling dengan konselor dan psikolog di Asisya Consulting.

Sumber:

https://www.prestasiglobal.id/mengajarkan-anak-mengucapkan-maaf-tolong-dan-terima-kasih-sejak-dini/

https://parenting.firstcry.com/articles/the-importance-of-magic-words-for-kids/ 

]]>
https://asisyaconsulting.com/pentingnya-mengajarkan-tiga-kata-ajaib-pada-anak/feed/ 0
Memahami Karakteristik Anak Lewat Urutan Kelahiran https://asisyaconsulting.com/memahami-karakteristik-anak-lewat-urutan-kelahiran/ https://asisyaconsulting.com/memahami-karakteristik-anak-lewat-urutan-kelahiran/#respond Thu, 10 Jun 2021 09:30:51 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=452 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Begitu pula dalam sebuah keluarga, tidak ada anak yang memiliki sifat atau karakter kepribadian sama bahkan anak kembar sekalipun. Mulai dari anak sulung, tengah, hingga bungsu memiliki keunikannya masing-masing

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan sifat tersebut ialah urutan kelahiran dalam sebuah keluarga. Urutan kelahiran ini menjadi salah satu faktor pembentuk kepribadian yang bersumber dari pola asuh atau lingkungan keluarga tempat anak tumbuh.

Bahkan menurut Hurlock (2013), urutan kelahiran dapat menentukan dan memberikan pengaruh terhadap perkembangan diri seseorang. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan perlakuan dalam pola asuh orang tua berdasarkan urutan kelahirannya.

Nah, berikut ini adalah ciri umum anak berdasarkan urutan kelahirannya menurut Hurlock (2013) antara lain:

1. Anak sulung

Biasanya menunjukkan perilaku matang atau lebih dewasa karena berhubungan dengan orang-orang dewasa dan sebab diharapkan memikul tanggung jawab. Oleh sebab itu, mereka sering tidak suka terhadap harapan untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya dan pengasuh mereka.

Selain itu, mereka sering merasa tidak bahagia karena timbulnya perasaan kurang aman akibat berkurangnya perhatian orang tua dengan kelahiran adik-adiknya. Pada kasus tertentu, anak sulung biasanya berprestasi tinggi atau bahkan sangat tinggi sebab adanya tekanan dan harapan orang tua. Hal ini juga dapat didasari keinginannya untuk memperoleh kembali perhatian orang tua yang sebelumnya berkurang.

Mereka yang terlahir sebagai anak sulung pun cenderung mengembangkan kemampuan memimpin sebagai akibat tekanan dari keharusan memikul tanggung jawab di rumah.

2. Anak tengah

Anak tengah merupakan anak yang memiliki karakter paling berbeda dengan kakak atau adiknya. Mereka cenderung memiliki rasa iri hingga tak jarang memberontak untuk menarik perhatian orang tua bagi dirinya sendiri dan merebutnya dari kakak atau adiknya. Mereka merasa terganggu oleh perasaan diabaikan oleh orang tuanya yang dapat mendorong timbulnya gangguan perilaku. 

Selain itu, anak tengah cenderung sering menganggu adik-adinya yang memperoleh lebih banyak perhatian. Mereka pun tidak menyukai keistimerwaan yang diperoleh kakak-kakaknya.

Anak tengah cenderung mengembangkan kebiasaan tidak berprestasi tinggi karena kurangnya tekanan untuk berprestasi. Mereka juga cenderung diberikan tanggung jawab lebih sedikit bila dibandingkan anak sulung sehingga melemahkan sifat kepemimpinannya. Meskipun begitu, anak tengah cenderung mandiri akibat dari kebebasan yang lebih banyak dari anak pertama. Mereka pun mampu bersikap ramah dan bersosialisasi pada orang lain.

3. Anak Bungsu

Sebab dilimpahkan oleh kasih sayang orang tua, anak bungsu memiliki rasa aman lebih besar. Mereka pun cenderung keras dan banyak menuntut sebagai akibat kurang tegas pendisiplinan dan dimanjakan oleh anggota keluarga.

Lalu, sebab anak bungsu biasanya menjadi target dari serangan kakak-kakaknya, biasanya mereka mendapat perlindungan dari orang tuanya. Sehingga dapat mendorong pada ketergantungan dan kurangnya rasa tanggung jawab yang menyebabkan jiwa kepemimpinannya melemah.

Namun, mereka dapat membina hubungan sosial yang baik di luar rumah dan cenderung popular di kalangan teman-temannya. Mereka pun cenderung merasa bahagia karena memperoleh perhatian dari keluarganya.

Itulah beberapa karakteristik atau ciri umum yang menggambarkan anak dengan masing-masing sifatnya. Tentu saja ciri-ciri tersebut tidak bisa diaplikasikan atau menjadi standar ukuran untuk sifat seseorang.

Telah disebutkan bahwa perbedaan pola asuh terhadap urutan kelahiran anak lah yang menjadi sumber mengapa hal ini dapat menentukan atau mempengaruhi perkembangan diri seseorang. Oleh sebab itu Sahabat Asisya, memahami karakteristik anak sangat penting untuk dapat menerapkan pola asuh yang sesuai.

Jika kamu masih memiliki pertanyaan atau kesulitan dalam pola asuh anak, kamu dapat bertanya kepada psikolog atau konselor Asisya Consulting. Kamu dapat melakukannya melalui konseling offline dengan langsung dapat ke kantor ataupun secara online.

 

Sumber:

Hurlock, Elizabeth B. 2013. Perkembangan Anak; Jilid 1 Edisi 6. Erlangga: Jakarta.

]]>
https://asisyaconsulting.com/memahami-karakteristik-anak-lewat-urutan-kelahiran/feed/ 0
5 Cara Menangani Anak Tanpa Kekerasan https://asisyaconsulting.com/5-cara-menangani-anak-tanpa-kekerasan/ https://asisyaconsulting.com/5-cara-menangani-anak-tanpa-kekerasan/#respond Sat, 22 May 2021 07:21:24 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=431 Sumber: freepik.com

Oleh: Tri Sulastri

Anak merupakan amanah yang dipercayakan Tuhan kepada orang tua untuk merawatnya. Bagaimana anak itu hidup, tumbuh, dan berkembang menjadi tanggung jawabnya karena anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan.

Pada perkembangannya, anak-anak berusaha untuk memuaskan rasa ingin tahunya dengan mencoba segala sesuatu. Mereka menjadi cenderung aktif dan tidak bisa diam sehingga membutuhkan perhatian lebih yang seringkali melelahkan kedua orang tuanya.

Kelelahan yang didapati orang tua dari anaknya yang tidak diiringi oleh pengetahuan dan memahami pentingnya pola asuh dapat membawa orang tua pada perilaku kekerasan pada anak.

Salah satu contohnya, Sahabat Asisya mungkin sudah mendengar bahwa baru-baru ini kita digemparkan oleh kasus rukyah anak yang dianggap nakal hingga menewaskan anak tersebut. Orang tua anak tersebut mengklaim bahwa sang anak sangat sulit diatur sehingga memutuskan untuk merukyahnya dengan cara menenggelamkan sang anak.

Ironisnya, dilansir dari kompas.com, data yang diperoleh oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat sebanyak 4.116 kasus kekerasan anak pada periode 1 Januari hingga 31 Juli 2020 di Indonesia.

Tingginya angka kekerasan anak menunjukkan masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya pola asuh kepada anak. Pada masa anak-anak, mereka disebut sebagai usia golden age dimana mempengaruhi tumbuh kembangnya saat mereka dewasa nanti.

Trauma yang disebabkan oleh kekerasan baik fisik maupun verbal dari orang tua dapat mempengaruhi psikologis anak dalam perkembangannya.

Oleh sebab itu, berikut ini beberapa tips untuk menangani anak-anak tanpa menggunakan kekerasan, antara lain:

  1.     Ciptakan komunikasi yang baik

Komunikasi sangat penting bagi sebuah hubungan, tak terkecuali antara orang tua dan anak. Jika mereka melakukan ‘kenakalan’, aturlah suasana hati anda dan bicarakan dengan baik tentang tindakannya. Katakan juga pada anak dengan sangat jelas tentang perilaku yang anda harapkan dan mengapa perilaku itu perlu dilakukan. 

Komunikasi yang baik juga dapat menjadi cara untuk orang tua menunjukkan rasa kasih sayangnya. Dengan begitu, anak akan menjadi lebih percaya diri.

  1.     Mengalihkan perhatian anak

Pada usia anak, perhatian mereka seringkali mudah untuk dialihkan. Ketika orang tua melihat anak sudah mulai menunjukkan perilaku yang tidak diinginkan, orang tua dapat mencoba untuk menawarkan kegiatan yang lebih menarik bagi mereka.

Contohnya seperti berjalan-jalan di sekitar rumah atau melakukan permainan yang disukainya. Tapi ingat tetap dampingi mereka selama mereka bermain.

  1.     Berikan peringatan dengan baik

Perhatikan nada bicara anda ketika melakukannya. Peringatan seperti “Jangan berantakin mainannya!” mungkin hanya akan membuat anak berhenti melakukannya pada saat itu dan mengulanginya di lain waktu.

Cobalah untuk menggunakan kalimat positif dan jelas apa yang kita peringkatkan seperti, “Tolong simpan mainanmu dengan rapi di lemari ya!”

  1.     Berikan contoh sesuai dengan apa yang anda ajarkan

Anak-anak cenderung untuk meniru perilaku yang ditunjukkan orang sekitarnya. Maka berhati-hatilah ketika orang tua berada di depan anak. Jika anda mengajarkan anak untuk tidak berbicara kasar maka terapkan peraturan itu pada diri anda.

Hal ini juga dilakukan agar tidak terjadi kebingungan pada diri anak untuk menentukan mana yang baik untuk dilakukan dan tidak.

  1.     Mengajarkan konsekuensi

Ketika anak menunjukkan sikap yang berlawanan dengan keinginan orang tua, rasanya mungkin akan sangat sulit untuk bersikap tenang. Maka hukuman menjadi alternatif termudah agar anak tidak melakukannya.

Namun, dengan adanya hukuman, anak akan mengembangkan rasa takut dan berdampak pada turunnya harga diri sang anak. Apalagi, jika orang tua memberikan hukuman tanpa penjelasan terhadap konsekuensi perilaku mereka.

Konsekuensi dapat membantu anak dalam mengembangkan tanggung jawab dan disiplinnya. Salah satu konsekuensi yang dapat anda berikan ialah dengan mengambil apa yang mereka suka. Contohnya, ketika anak memainkan handphone lebih dari waktu yang anda tentukan maka anda akan mengambil handphone tersebut.

Berikan penguat dengan pujian atau hadiah ketika anak berhasil melakukannya. Dengan begitu anak akan semakin termotivasi untuk mengulangi perilakunya.

Cobalah untuk tetap bersikap tenang ketika anda mengajarkan konsekuensi kepada anak anda. Pilih konsekuensi yang realistis serta memiliki komitmen agar anak tidak bingung.

Tentu saja pembahasan mengenai anak tidaklah mudah. Berbagai hal dan faktor yang melatarbelakangi perilaku anak pun tetap harus diperhatikan. Namun, cara-cara tersebut dapat anda coba untuk menghindari memberikan hukuman yang dapat membekas pada diri anak.

Jika orang tua hanya memberikan hukuman tanpa penjelasan, anak akan cenderung tidak dapat memahami apa yang benar dan salah, serta tidak dapat menentukan pilihannya sendiri. Mereka hanya akan berpikir bahwa perilaku tersebut tidak disukai orang tua mereka.

Usahakan untuk mengambil waktu istirahat untuk diri sendiri sebab mengurus anak yang sedang aktif memang tidaklah mudah.

 

Sumber:

https://nasional.kompas.com/read/2020/08/12/15410871/kementerian-pppa-catat-ada-4116-kasus-kekerasan-anak-dalam-7-bulan-terakhir?page=all

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/uploads/Dokumen/4021_2016-08-24/20%20MENGASUH%20ANAK.pdf 

]]>
https://asisyaconsulting.com/5-cara-menangani-anak-tanpa-kekerasan/feed/ 0
Bolehkah Memberi Reward Kepada Anak ? https://asisyaconsulting.com/bolehkah-memberi-reward-kepada-anak/ https://asisyaconsulting.com/bolehkah-memberi-reward-kepada-anak/#respond Mon, 28 Sep 2020 08:00:10 +0000 http://asisyaconsulting.com/?p=262 Memberikan reward ke anak itu diperbolehkan kok. Reward merupakan suatu bentuk teori reward positif yang bersumber dari aliran behavioristik, yang dikemukakan oleh Watson dan Ivan Pavlov. Tapi sebelum itu, reward sebenarnya itu apa ? Berikut definisi dan pengertian dari reward menurut beberapa sumber:

  • Menurut Arikunto (1993), reward adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang karena sudah mendapatkan prestasi dengan yang dikehendaki.
  • Menurut Djamarah (2008), reward adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan/cenderamata.
  • Menurut Sastrohadiwiryo (2009), reward adalah imbalan balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada para tenaga kerja, karena tenaga kerja tersebut telah memberikan sumbangan tenaga dan pikiran demi kemajuan perusahaan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  • Menurut Leman (2000), reward adalah sesuatu yang diberikan kepada perorangan atau kelompok jika mereka melakukan suatu keunggulan di bidang tertentu.
  • Menurut Slameto (2010), reward adalah suatu penghargaan yang diberikan guru kepada siswa sebagai hadiah karena siswa tersebut telah berperilaku baik dan sudah berhasil melaksanakan tugas yang diberikan guru dengan baik.
  • Menurut Purwanto (2011), reward adalah alat untuk mendidik anak-anak supaya anak merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan

Jadi reward untuk anak adalah sebuah bentuk penghargaan atas sikap atau hal baik yang dilakukan oleh anak. Setelah kita mengetahui pengertian reward, lalu apa saja fungsi reward untuk anak?

Reward untuk anak memiliki banyak sekali manfaat diantaranya:

  1. Mendorong anak untuk bersikap baik, dengan memberikan reward atas hal baik yang telah dilakukan anak, hal ini bisa memberikan penguatan kepada anak bahwa setiap ia melakukan hal baik maka ia akan diberi penghargaan.
  2. Bisa meningkatkan harga diri anak dan membuat anak lebih percaya diri
  3. Mendekatkan hubungan orang tua dengan anak

Tapi pemberian reward juga bisa berdanpak negatif jika salah menerapkan atau terlalu sering diberikan. Hal tersebut akan membuat anak berpikir “aku baru akan melakukan sesuatu jika ada rewardnya”. Jadi penting untuk kita memberikan reward yang tepat, apa contohnya?

  1. Affection, yaitu berupa pelukan, ciuman, tos, elusan, senyuman, dll
  2. Pujian, “makasih ya nak, sudah bantu beresin mainan
  3. Memberikan pengalaman atau quality time yang bisa bikin berkesan
  4. Boleh memberikan barang asalkan harus dikondisi yang tepat

Lalu apa saja sikap-sikap anak yang sesuai untuk mendapatkan metode reward? Bisa diberikan untuk perilaku mengompol pada anak, jika anak sudah mulai terbiasa buang air di kamar mandi maka boleh diberikan reward. Bisa juga untuk kebiasaan belajar pada anak dan cara bersikap anak kepada orang lain. Jadi kesimpulannya reward boleh saja diberikan kepada anak tapi harus sesuai dengan kondisi dan harus dengan cara yang tepat.

 

 

 

 

]]>
https://asisyaconsulting.com/bolehkah-memberi-reward-kepada-anak/feed/ 0
Pengaruh Gadget pada Anak https://asisyaconsulting.com/pengaruh-gadget-pada-anak/ https://asisyaconsulting.com/pengaruh-gadget-pada-anak/#respond Thu, 12 May 2016 06:11:39 +0000 http://asisyaconsulting.com/?p=200 Membiarkan Anak Bermain Gadget Apakah Sikap Yang Bijaksana oleh Orang Tua? Mengapa? Pada dasarnya sikap bijaksana orang tua terhadap anaknya adalah apabila orang tua tersebut mampu menerapkan batasan yang jelas pada anak-anak mereka. Sehingga anak mendapatkan pembelajaran yang dapat membuat mereka berkembang dengan optimal dan juga mempelajari norma-norma yang berlaku dalam budaya yang mereka anut guna beradaptasi. Teknologi berkembang terus, terlebih dalam masa sekarang ini. Sehingga hal itu menuntut kita untuk dapat juga adaptif dengan perkembangan teknologi yang terus meningkat. Termasuk juga anak kita. Apabila kita tidak mengenalkan anak kita dengan teknologi saat ini, ia akan tertinggal dan itu dapat memicu permasalahan tersendiri. Mungkin ia akan tertinggal dengan kemajuan sistem sekolahnya, dan juga dengan lingkungan sosialnya. Teman-temannya bisa saja mengejek dan bahkan tidak mengajaknya bermain bersama mereka. Hal itu akan membuat psikologis anak menjadi minder dan juga merasa sedih dengan ejekan temannya tersebut. Oleh sebab itu, lebih bijak apabila orang tua tetap mengenalkan Gadget dan teknologi pada anak, namun memberi batasan dan aturan yang jelas mengenai pemakaiannya. Sehingga anak tidak akan larut dan lupa akan aktifitas yang dapat mengembangkan motoriknya dan juga kecerdasan sosialnya. Adakah Hal Positif Penggunaan Gadget Pada Anak? Penggunaan Gadget dan internet pada anak memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif yang pertama adalah dapat membantu perkembangan fungsi adaptif anak. Artinya, ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini akan membanggakan anak juga, karena ia tidak merasa tertinggal oleh teman-temannya. Seorang anak hendaknya diberikan kesempatan untuk mengembangkan daya adaptifnya. Kemudian yang kedua adalah, anak juga dapat lebih merasa bersemangat dalam pembelajaran apabila menggunakan gadget sebagai sarana edukasi. Anak akan belajar pelajaran sekolah dari media gadget yang tentunya akan menyenangkan mereka. Karena fitur2 dan aplikasi yang ditawarkan memang merangsang anak untuk lebih tahan berkonsentrasi dibandingkan dengan sebuah buku yang objeknya diam. Objek yang aktif dan dinamis dalam sebuah gadget menurut Robert L. Solso (2002) mengatakan bahwa kognisi manusia lebih tahan terhadap rangsang visual yang bergerak aktif. Sehingga aplikasi yang ada dalam gadget dapat dipergunakan sebagai media edukasi yang merangsang semangat belajar anak. Tentunya dengan arahan dan bimbingan orang tua atau guru. Untuk anak usia di bawah 5 tahun, pemberian gadget sebaiknya hanya seputar pengenalan warna, bentuk, dan suara. Artinya, jangan terlalu banyak memberikan kesempatan bermain gadget pada anak di bawah 5 tahun. Terlebih di usia ini, yang utama bukan gadget -nya, tapi fungsi orangtua. Pasalnya gadget hanya sebagai salah satu sarana untuk mengedukasi anak. Sehingga lebih tepat jika penggunaannya sangat dibatasi seminggu sekali saja sudah cukup. Apakah Dampak Negatif dari Gadget pada Anak ? Gadget juga memiliki dampak negatif yang cukup membahayakan anak.  teknologi dan gadget juga bisa menjadi pangkal sebab berbagai masalah fisik dan mental anak-anak. Secara teoritis, memang bukan video atau hape atau game itu sendiri yang menyebabkan masalah kesehatan pada anak-anak. Tapi, kelebihan fokus pada gadget dapat menyebabkan kebiasaan tidak sehat. Misalnya, anak-anak menjadi kurang berinteraksi social secara nyata dan menjadi cenderung penyendiri. Selain itu Gadget juga bisa menjauhkan anak dari interaksi dengan orang tua karena anak lebih tertarik untuk menghabiskan waktu bermain Gadget. Kemudian dari sisi neurofisiologis, Gadget juga menganggu taraf perkembangan otak anak. Otak anak dibawah usia 5 tahun lebih baik diberi rangsangan sensorik secara langsung seperti meraba, melompat, berlari, mendengar, bernyanyi, berinteraksi dengan orang dan sebagainya. Jika anak balita terlalu berlebihan menggunakan Gadget, ia akan mengaktifkan hormon endorfin di bagian otak belakang yang mengatur pusat kesenangan dan kenyamanan. Pada saat bermain gadget, anak akan merasakan kesenangan, sehingga memicu meningkatnya hormon endorfin. Nah, kecanduan akan terjadi jika dilakukan dalam jangka waktu lama dan terus menerus. Akibatnya, ke depannya, anak akan mencari kesenangan dengan jalan bermain gadget, karena memang sudah terpola sejak awal perkembangannya. Bagaimana Cara Orang Tua agar Anak Terhindar Dari Pengaruh Negatif Gadget?

  • Batasi pemakaiannya! Hendaknya orang tua benar – benat memiliki komitmen yang kuat untuk memberikan batasan serta selalu mendampingi anak-anaknya dalam masa pertumbuhan kognitif, social serta emosionalnya. Jangan karena dalih kasih sayang kepada anak akhirnya justru menyengsarakan masa depan anak dimasa yang akan datang. Jangan karena kasih sayang sehingga membuat orang tua tidak tega melarang dan selalu menuruti apapun kehendak anak. Anak masih dalam tahap belajar mengarungi pengaruh positif dan negatif dunia. Anak masih belajar efek baik dan buruk. Sehingga peran orang tua yang konsisten sangat dibutuhkan.

Apabila para orang tua sudah menemui anaknya yang mulai susah diajak keluar rumah, ogah-ogahan diajak berkunjung ke rumah saudara, lebih suka berada dalam kamarnya sendiri dalam jangka waktu yang lama, sudah jarang mendengar celotehan dan keramaiannya di rumah dan itu disebabkan karena ada Gadget di depan mereka. Hal tersebut menandakan bahwa anak anda sudah mulai kecanduan. Dan hal itu harus segera diatasi dengan cara penerapan aturan dari orang tua, dengan mengajak anak untuk berani berkomitmen kapan waktu yang anak pilih untuk bermain Gadget. Metode punish and reward juga dapat dilakukan. Misalnya memberikan hadiah pergi bersama diakhir pekan untuk reward apabila mematuhi aturan selama seminggu penuh, atau memberikan punishment (hukuman) berupa “puasa Gadget” 2 minggu penuh apabila melanggar komitmen bersama. Tentunya, sentimentil orang tua tidak boleh muncul sehingga komitmen terlanggar sendiri oleh orang tua dan anak menjadi tidak menghargai aturan-aturan yang diberikan oleh orang tuanya. Sehingga yang perlu di ingat bahwa, gunakan teknologi secara bijaksana sesuai kebutuhan. Jangan sampai ketakutan Albert Einstein pada jaman dahulu terjadi, yaitu “I fear the day technology will surpass our human interaction, the world will have a generation of idiots”.

]]>
https://asisyaconsulting.com/pengaruh-gadget-pada-anak/feed/ 0