Oleh Tri Sulastri
Memiliki tata krama yang baik merupakan keinginan setiap orang tua pada diri anaknya. Pada dasarnya setiap anak terlahir dalam keadaan seperti kertas putih. Pendidikan atau ajaran orang tua dan lingkungan sekitar lah yang menentukan bagaimana perkembangan mereka.
Sahabat Asisya terutama para orang tua, tahukah kalian kalau mengajarkan tiga kata ajaib ini dapat membantu perkembangan terutama pada aspek sosial anak?
Tiga kata ajaib, apa itu?
‘Magic words’ atau ‘Golden words’ yang dalam bahasa Indonesianya ialah kata ajaib ini miliki peran penting dalam pengajaran terhadap anak.
Pada bahasan kali ini kita akan membahas tiga kata ajaib yang terdiri dari maaf, tolong, dan terima kasih.
Maaf
Belajar tentang kata maaf sejak dini akan membiasakannya untuk meminta maaf ketika ia melakukan kesalahan. Dengan begitu, kata maaf pada anak dapat membantu ia untuk belajar bertanggung jawab
Perlu bagi orang tua untuk mengajarkan pada anak bahwa mengucapkan maaf bukan berarti tanda kekalahan namun menunjukkan kuatnya karakter pada diri anak. Mengucap maaf untuk kesalahan yang dilakukan juga menumbuhkan kepercayaan pada orang-orang di sekitarnya.
Tolong
Kata tolong merupakan dasar dari perilaku sopan santun. Mengajarkan kata tolong pada anak menyampaikan rasa hormat pada seseorang. Mereka akan belajar untuk tidak seenaknya menyuruh seseorang melakukan sesuatu. Dengan begitu, anak pun kemungkinan lebih disukai sekitar dan orang yang dimintai tolong pun lebih bersedia membantu.
Terima kasih
Mengajarkan mengucapkan terima kasih menggambarkan rasa syukur atas suatu hal yang diberikan atau dilakukan seseorang pada mereka. Sehingga orang lain pun merasa dihargai atas perbuatannya dan memiliki kemauan untuk melakukan sesuatu untuknya di masa yang akan datang.
Kata ini pun dapat membuat anak untuk belajar menghargai kebaikan orang lain dan membantunya tumbuh menjadi orang dewasa yang rendah hati.
‘Terima kasih’ juga dapat menjadi bayaran atau reinforcement positif untuk anak setelah melakukan sesuatu.
Lalu bagaimana mengajarkan anak untuk melakukannya?
Dalam mengajarkan sesuatu pada anak pasti ada saja problematikanya. Terkadang anak menurut, di lain waktu menjadi pembangkang yang susah diatur. Maka di bawah ini ada beberapa tips yang dapat kamu coba lakukan, antara lain:
Itulah beberapa informasi yang telah dirangkum mengenai pentingnya mengajarkan tiga kata ajaib pada anak. Jika kalian masih memiliki pertanyaan terhadap psikologis tumbuh kembang anak, maka kalian dapat melakukan konseling dengan konselor dan psikolog di Asisya Consulting.
Sumber:
https://www.prestasiglobal.id/mengajarkan-anak-mengucapkan-maaf-tolong-dan-terima-kasih-sejak-dini/
https://parenting.firstcry.com/articles/the-importance-of-magic-words-for-kids/
]]>Oleh Tri Sulastri
Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Begitu pula dalam sebuah keluarga, tidak ada anak yang memiliki sifat atau karakter kepribadian sama bahkan anak kembar sekalipun. Mulai dari anak sulung, tengah, hingga bungsu memiliki keunikannya masing-masing
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan sifat tersebut ialah urutan kelahiran dalam sebuah keluarga. Urutan kelahiran ini menjadi salah satu faktor pembentuk kepribadian yang bersumber dari pola asuh atau lingkungan keluarga tempat anak tumbuh.
Bahkan menurut Hurlock (2013), urutan kelahiran dapat menentukan dan memberikan pengaruh terhadap perkembangan diri seseorang. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan perlakuan dalam pola asuh orang tua berdasarkan urutan kelahirannya.
Nah, berikut ini adalah ciri umum anak berdasarkan urutan kelahirannya menurut Hurlock (2013) antara lain:
1. Anak sulung
Biasanya menunjukkan perilaku matang atau lebih dewasa karena berhubungan dengan orang-orang dewasa dan sebab diharapkan memikul tanggung jawab. Oleh sebab itu, mereka sering tidak suka terhadap harapan untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya dan pengasuh mereka.
Selain itu, mereka sering merasa tidak bahagia karena timbulnya perasaan kurang aman akibat berkurangnya perhatian orang tua dengan kelahiran adik-adiknya. Pada kasus tertentu, anak sulung biasanya berprestasi tinggi atau bahkan sangat tinggi sebab adanya tekanan dan harapan orang tua. Hal ini juga dapat didasari keinginannya untuk memperoleh kembali perhatian orang tua yang sebelumnya berkurang.
Mereka yang terlahir sebagai anak sulung pun cenderung mengembangkan kemampuan memimpin sebagai akibat tekanan dari keharusan memikul tanggung jawab di rumah.
2. Anak tengah
Anak tengah merupakan anak yang memiliki karakter paling berbeda dengan kakak atau adiknya. Mereka cenderung memiliki rasa iri hingga tak jarang memberontak untuk menarik perhatian orang tua bagi dirinya sendiri dan merebutnya dari kakak atau adiknya. Mereka merasa terganggu oleh perasaan diabaikan oleh orang tuanya yang dapat mendorong timbulnya gangguan perilaku.
Selain itu, anak tengah cenderung sering menganggu adik-adinya yang memperoleh lebih banyak perhatian. Mereka pun tidak menyukai keistimerwaan yang diperoleh kakak-kakaknya.
Anak tengah cenderung mengembangkan kebiasaan tidak berprestasi tinggi karena kurangnya tekanan untuk berprestasi. Mereka juga cenderung diberikan tanggung jawab lebih sedikit bila dibandingkan anak sulung sehingga melemahkan sifat kepemimpinannya. Meskipun begitu, anak tengah cenderung mandiri akibat dari kebebasan yang lebih banyak dari anak pertama. Mereka pun mampu bersikap ramah dan bersosialisasi pada orang lain.
3. Anak Bungsu
Sebab dilimpahkan oleh kasih sayang orang tua, anak bungsu memiliki rasa aman lebih besar. Mereka pun cenderung keras dan banyak menuntut sebagai akibat kurang tegas pendisiplinan dan dimanjakan oleh anggota keluarga.
Lalu, sebab anak bungsu biasanya menjadi target dari serangan kakak-kakaknya, biasanya mereka mendapat perlindungan dari orang tuanya. Sehingga dapat mendorong pada ketergantungan dan kurangnya rasa tanggung jawab yang menyebabkan jiwa kepemimpinannya melemah.
Namun, mereka dapat membina hubungan sosial yang baik di luar rumah dan cenderung popular di kalangan teman-temannya. Mereka pun cenderung merasa bahagia karena memperoleh perhatian dari keluarganya.
Itulah beberapa karakteristik atau ciri umum yang menggambarkan anak dengan masing-masing sifatnya. Tentu saja ciri-ciri tersebut tidak bisa diaplikasikan atau menjadi standar ukuran untuk sifat seseorang.
Telah disebutkan bahwa perbedaan pola asuh terhadap urutan kelahiran anak lah yang menjadi sumber mengapa hal ini dapat menentukan atau mempengaruhi perkembangan diri seseorang. Oleh sebab itu Sahabat Asisya, memahami karakteristik anak sangat penting untuk dapat menerapkan pola asuh yang sesuai.
Jika kamu masih memiliki pertanyaan atau kesulitan dalam pola asuh anak, kamu dapat bertanya kepada psikolog atau konselor Asisya Consulting. Kamu dapat melakukannya melalui konseling offline dengan langsung dapat ke kantor ataupun secara online.
Sumber:
Hurlock, Elizabeth B. 2013. Perkembangan Anak; Jilid 1 Edisi 6. Erlangga: Jakarta.
]]>Oleh: Tri Sulastri
Anak merupakan amanah yang dipercayakan Tuhan kepada orang tua untuk merawatnya. Bagaimana anak itu hidup, tumbuh, dan berkembang menjadi tanggung jawabnya karena anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan.
Pada perkembangannya, anak-anak berusaha untuk memuaskan rasa ingin tahunya dengan mencoba segala sesuatu. Mereka menjadi cenderung aktif dan tidak bisa diam sehingga membutuhkan perhatian lebih yang seringkali melelahkan kedua orang tuanya.
Kelelahan yang didapati orang tua dari anaknya yang tidak diiringi oleh pengetahuan dan memahami pentingnya pola asuh dapat membawa orang tua pada perilaku kekerasan pada anak.
Salah satu contohnya, Sahabat Asisya mungkin sudah mendengar bahwa baru-baru ini kita digemparkan oleh kasus rukyah anak yang dianggap nakal hingga menewaskan anak tersebut. Orang tua anak tersebut mengklaim bahwa sang anak sangat sulit diatur sehingga memutuskan untuk merukyahnya dengan cara menenggelamkan sang anak.
Ironisnya, dilansir dari kompas.com, data yang diperoleh oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat sebanyak 4.116 kasus kekerasan anak pada periode 1 Januari hingga 31 Juli 2020 di Indonesia.
Tingginya angka kekerasan anak menunjukkan masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya pola asuh kepada anak. Pada masa anak-anak, mereka disebut sebagai usia golden age dimana mempengaruhi tumbuh kembangnya saat mereka dewasa nanti.
Trauma yang disebabkan oleh kekerasan baik fisik maupun verbal dari orang tua dapat mempengaruhi psikologis anak dalam perkembangannya.
Oleh sebab itu, berikut ini beberapa tips untuk menangani anak-anak tanpa menggunakan kekerasan, antara lain:
Komunikasi sangat penting bagi sebuah hubungan, tak terkecuali antara orang tua dan anak. Jika mereka melakukan ‘kenakalan’, aturlah suasana hati anda dan bicarakan dengan baik tentang tindakannya. Katakan juga pada anak dengan sangat jelas tentang perilaku yang anda harapkan dan mengapa perilaku itu perlu dilakukan.
Komunikasi yang baik juga dapat menjadi cara untuk orang tua menunjukkan rasa kasih sayangnya. Dengan begitu, anak akan menjadi lebih percaya diri.
Pada usia anak, perhatian mereka seringkali mudah untuk dialihkan. Ketika orang tua melihat anak sudah mulai menunjukkan perilaku yang tidak diinginkan, orang tua dapat mencoba untuk menawarkan kegiatan yang lebih menarik bagi mereka.
Contohnya seperti berjalan-jalan di sekitar rumah atau melakukan permainan yang disukainya. Tapi ingat tetap dampingi mereka selama mereka bermain.
Perhatikan nada bicara anda ketika melakukannya. Peringatan seperti “Jangan berantakin mainannya!” mungkin hanya akan membuat anak berhenti melakukannya pada saat itu dan mengulanginya di lain waktu.
Cobalah untuk menggunakan kalimat positif dan jelas apa yang kita peringkatkan seperti, “Tolong simpan mainanmu dengan rapi di lemari ya!”
Anak-anak cenderung untuk meniru perilaku yang ditunjukkan orang sekitarnya. Maka berhati-hatilah ketika orang tua berada di depan anak. Jika anda mengajarkan anak untuk tidak berbicara kasar maka terapkan peraturan itu pada diri anda.
Hal ini juga dilakukan agar tidak terjadi kebingungan pada diri anak untuk menentukan mana yang baik untuk dilakukan dan tidak.
Ketika anak menunjukkan sikap yang berlawanan dengan keinginan orang tua, rasanya mungkin akan sangat sulit untuk bersikap tenang. Maka hukuman menjadi alternatif termudah agar anak tidak melakukannya.
Namun, dengan adanya hukuman, anak akan mengembangkan rasa takut dan berdampak pada turunnya harga diri sang anak. Apalagi, jika orang tua memberikan hukuman tanpa penjelasan terhadap konsekuensi perilaku mereka.
Konsekuensi dapat membantu anak dalam mengembangkan tanggung jawab dan disiplinnya. Salah satu konsekuensi yang dapat anda berikan ialah dengan mengambil apa yang mereka suka. Contohnya, ketika anak memainkan handphone lebih dari waktu yang anda tentukan maka anda akan mengambil handphone tersebut.
Berikan penguat dengan pujian atau hadiah ketika anak berhasil melakukannya. Dengan begitu anak akan semakin termotivasi untuk mengulangi perilakunya.
Cobalah untuk tetap bersikap tenang ketika anda mengajarkan konsekuensi kepada anak anda. Pilih konsekuensi yang realistis serta memiliki komitmen agar anak tidak bingung.
Tentu saja pembahasan mengenai anak tidaklah mudah. Berbagai hal dan faktor yang melatarbelakangi perilaku anak pun tetap harus diperhatikan. Namun, cara-cara tersebut dapat anda coba untuk menghindari memberikan hukuman yang dapat membekas pada diri anak.
Jika orang tua hanya memberikan hukuman tanpa penjelasan, anak akan cenderung tidak dapat memahami apa yang benar dan salah, serta tidak dapat menentukan pilihannya sendiri. Mereka hanya akan berpikir bahwa perilaku tersebut tidak disukai orang tua mereka.
Usahakan untuk mengambil waktu istirahat untuk diri sendiri sebab mengurus anak yang sedang aktif memang tidaklah mudah.
Sumber:
]]>Jadi reward untuk anak adalah sebuah bentuk penghargaan atas sikap atau hal baik yang dilakukan oleh anak. Setelah kita mengetahui pengertian reward, lalu apa saja fungsi reward untuk anak?
Reward untuk anak memiliki banyak sekali manfaat diantaranya:
Tapi pemberian reward juga bisa berdanpak negatif jika salah menerapkan atau terlalu sering diberikan. Hal tersebut akan membuat anak berpikir “aku baru akan melakukan sesuatu jika ada rewardnya”. Jadi penting untuk kita memberikan reward yang tepat, apa contohnya?
Lalu apa saja sikap-sikap anak yang sesuai untuk mendapatkan metode reward? Bisa diberikan untuk perilaku mengompol pada anak, jika anak sudah mulai terbiasa buang air di kamar mandi maka boleh diberikan reward. Bisa juga untuk kebiasaan belajar pada anak dan cara bersikap anak kepada orang lain. Jadi kesimpulannya reward boleh saja diberikan kepada anak tapi harus sesuai dengan kondisi dan harus dengan cara yang tepat.
]]>
Apabila para orang tua sudah menemui anaknya yang mulai susah diajak keluar rumah, ogah-ogahan diajak berkunjung ke rumah saudara, lebih suka berada dalam kamarnya sendiri dalam jangka waktu yang lama, sudah jarang mendengar celotehan dan keramaiannya di rumah dan itu disebabkan karena ada Gadget di depan mereka. Hal tersebut menandakan bahwa anak anda sudah mulai kecanduan. Dan hal itu harus segera diatasi dengan cara penerapan aturan dari orang tua, dengan mengajak anak untuk berani berkomitmen kapan waktu yang anak pilih untuk bermain Gadget. Metode punish and reward juga dapat dilakukan. Misalnya memberikan hadiah pergi bersama diakhir pekan untuk reward apabila mematuhi aturan selama seminggu penuh, atau memberikan punishment (hukuman) berupa “puasa Gadget” 2 minggu penuh apabila melanggar komitmen bersama. Tentunya, sentimentil orang tua tidak boleh muncul sehingga komitmen terlanggar sendiri oleh orang tua dan anak menjadi tidak menghargai aturan-aturan yang diberikan oleh orang tuanya. Sehingga yang perlu di ingat bahwa, gunakan teknologi secara bijaksana sesuai kebutuhan. Jangan sampai ketakutan Albert Einstein pada jaman dahulu terjadi, yaitu “I fear the day technology will surpass our human interaction, the world will have a generation of idiots”.
]]>