Deprecated: Creation of dynamic property Flatsome_Envato::$slug is deprecated in /home/asisgcom/public_html/wp-content/themes/flatsome/inc/classes/class-flatsome-envato.php on line 47

Deprecated: version_compare(): Passing null to parameter #1 ($version1) of type string is deprecated in /home/asisgcom/public_html/wp-content/themes/flatsome/inc/classes/class-flatsome-upgrade.php on line 115

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/asisgcom/public_html/wp-content/themes/flatsome/inc/classes/class-flatsome-envato.php:47) in /home/asisgcom/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
gangguan psikologis – Asisya Consulting https://asisyaconsulting.com Biro Jasa Konsultasi Psikologi Thu, 15 Jul 2021 13:27:15 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.11 https://asisyaconsulting.com/wp-content/uploads/2014/03/cropped-favicon-32x32.png gangguan psikologis – Asisya Consulting https://asisyaconsulting.com 32 32 Meningkatnya Gangguan Kesehatan Mental Saat Pandemi https://asisyaconsulting.com/meningkatnya-gangguan-kesehatan-mental-saat-pandemi/ https://asisyaconsulting.com/meningkatnya-gangguan-kesehatan-mental-saat-pandemi/#respond Mon, 12 Jul 2021 14:38:57 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=478 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

COVID-19 merupakan pandemic atau wabah penyakit yang secara tiba-tiba menjangkit seluruh dunia sejak 2019 lalu. Segala perubahan dan kebijakan ditetapkan dalam upaya menghentikan laju penyebaran wabah ini.

Berbagai dampak terjadi diakibatkan pandemic ini salah satunya adalah gangguan kesehatan mental. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mencatat pada 5 bulan pandemic yaitu sejak April – Agustus 2021, sebanyak 64,8 persen dari 4010 pengguna swaperiksa di web PDSKJI mengalami masalah psikologis.

Swaperiksa itu sendiri merupakan layanan dari PDSKJI berupa pemeriksaan kesehatan mental yang dapat dilakukan oleh penggunanya sendiri. Kemudian jika hasilnya terdapat gejala gangguan psikologis dapat menghubungi tenaga psikolog yang disediakan oleh PDSKJI.

Dari hasil swaperiksa tersebut masalah psikologis yang dialami antara lain 65 persen kecemasan, 62 persen depresi, 75 persen trauma psikologis, dan 1 dari 5 orang (44 persen dari penderita depresi) memiliki pemikiran untuk bunuh diri. PDSKJI pun mencatat bahwa gangguan kesehatan mental ini paling banyak menyerang perempuan yaitu 71 persen sementara laki-laki 29 persen. Gangguan ini pun ditemukan pada kelompok usia paling rentan mengalami masalah psikologis antara lain 17 – 29 tahun dan diatas 60 tahun.

Gangguan kecemasan dalam DSM-IV-TR ditandai oleh kekhawatiran terus menerus yang sulit dikendalikan hingga mengalami kelelahan mental, mudah marah, gangguan tidur dan otot. 

Hal ini serupa dengan hasil yang dipaparkan oleh PDSKJI. Dalam surveynya mereka menyatakan bahwa gejala yang dialami responden berupa pemikiran sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir berlebihan, mudah marah atau jengkel, dan sulit rileks.

Sementara gejala depresi ditandai perasaan sedih dan tertekan hingga kehilangan minat atau kesenangan pada suatu aktivitas, sulit tidur, kehilangan energi, nafsu makan berkurang, memandang diri secara negatif, dan memiliki pemikiran tentang bunuh diri.

Tanda-tanda tersebut sama dengan gejala depresi yang ditemukan oleh PDSKJI pada pengguna swaperiksa berupa gangguan tidur, kurang percaya diri, lebih tidak bertenaga, dan kehilangan minat terhadap sesuatu. Hal ini mereka rasakan lebih dari separuh waktu dalam 2 minggu terakhir.

Pemberitaan banyaknya korban meninggal akibat COVID-19 atau peristiwa-peristiwa lainnya bahkan mengalami sendiri kerugian akibat pandemi ini menyebabkan gejala stress pasca trauma (PTSD) pada sebagian orang. 

Dalam survey yang dilakukan PDSKJI, ditemukan sebanyak 80 persen dari 182 pengguna swaperiksa memiliki gejala PTSD karena menyaksikan atau mengalami peristiwa terkait COVID-19.

Gejala yang dialami diantaranya 46 persen gejala berat, 33 persen gejala sedang, dan 2 persen gejala ringan serta 19 persen tidak memiliki gejala. Sementara untuk gejala yang paling menonjol adalah merasa berjarak dan terpisah dari orang lain, mati rasa, merasa terus waspada, mudah marah, sulit tidur, dan kesulitan berkonsentrasi. 

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun meninggalkan banyak kejadian tidak menyenangkan penyebab gangguan psikologis pada banyak orang. Gangguan yang tidak segera ditangani atau bahkan hanya dibiarkan dapat menyebabkan masalah yang lebih besar.

Jika kamu merasakan gejala gangguan psikologis yang mulai mengganggu aktivitasmu, segeralah mencari pertolongan konselor atau psikolog. Asisya Consulting menyediakan layanan konseling dan terapi psikologis bagi kamu yang ingin mencari pendampingan psikologis.

Sumber:

http://pdskji.org/home

Davison, dkk. 2018. Psikologi Abnormal. Depok: Rajawali Pers.

]]>
https://asisyaconsulting.com/meningkatnya-gangguan-kesehatan-mental-saat-pandemi/feed/ 0
Antisosial dan Asosial, Sama Gak Sih? https://asisyaconsulting.com/antisosial-dan-asosial-sama-gak-sih/ https://asisyaconsulting.com/antisosial-dan-asosial-sama-gak-sih/#respond Fri, 30 Apr 2021 08:49:48 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=419 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

Sahabat Asisya, pernahkah kalian menemukan seseorang yang memanggil orang lain dengan sebutan ansos (antisosial)? Atau mungkin kalian sendiri?

Istilah ansos sering kali digunakan untuk seseorang yang dianggap penyendiri, tidak punya teman atau tidak bergaul dengan lingkungannya. Namun tak jarang juga terdapat kekeliruan dengan menganggap anti sosial sama dengan asosial, padahal terdapat perbedaan yang mendasar antara keduanya.

Jadi, apa itu Antisosial?

Dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), antisosial merupakan salah satu gangguan kepribadian disosial yang biasanya timbul karena perbedaan yang besar antara perilaku dan norma sosial yang berlaku. Individu dengan gangguan ini seringkali mengabaikan hukum, tidak peduli dengan perasaan orang lain, manipulatif dan tidak bertanggung jawab atas perilakunya. Namun, mereka pun menunjukkan karisma dalam penampilan luarnya dan memiliki intelegasi di atas rata-rata pada umumnya (Cleckley, 1976; Budiarti, Krisnani, Deraputri, 2017).

Karakteristik Gangguan Kepribadian Antisosial

Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-IV-TR) konsep gangguan kepribadian ini mencakup dua komponen utama yaitu adanya gangguan tingkah laku sebelum usia 15 tahun seperti membolos, lari dari rumah, sering berbohong, mencuri, melakukan pembakaran, dan dengan sengaja merusak kepemilikan. Selain itu pola perilaku antisosial tersebut terus berlanjut pada masa dewasa (Davidson, Neale, Kring, 2018).

Sementara karakteristik gangguan kepribadian antisosial dalam DSM-IV-TR antara lain (Davidso, Neale, Kring, 2018):

  1. Berulang kali melanggar hukum
  2. Menipu, berbohong
  3. Impulsivitas
  4. Mudah tersinggung dan agresif
  5. Tidak memedulikan keselamatan diri sendiri dan orang lain
  6. Tidak bertanggung jawab seperti terlihat dalam riwayat pekerjaan yang tidak reliabel atau tidak memenuhi tanggung jawab keuangan
  7. Kurang memiliki rasa penyesalan
  8. Berusia minimal 18 tahun
  9. Terdapat bukti mengenai gangguan tingkah laku sebelum berusia 15 tahun
  10. Perilaku antisosial yang tidak terjadi secara eksklusif dalam episode skizofrenia atau mania.

Apa yang menyebabkan gangguan kepribadian antisosial?

Menurut DSM-IV, faktor yang mempengaruhi terbentuknya gangguan ini bermula dari hubungan sosial dalam rumah tangga dan pola asuh yang penuh dengan kekerasan. Selain itu didukung oleh komunitas masyarakat serta lingkungan pendidikan yang penuh kekerasan sehingga mempengaruhi temperamen dan kemampuan berpikir pada individu.

Lalu, apa itu asosial?

Asosial seringkali dikaitkan dengan penarikan diri dari lingkungan sosialnya. Dikutip dari Zhafira (2018) sikap asosial mengacu kepada kurangnya motivasi seseorang dalam terlibat atau melakukan interaksi sosial. Individu dengan sikap ini memiliki kepekaan atau perasaan yang kurang terhadap nilai-nilai dan norma-norma di masyarakat karena terlalu mementingkan dirinya sendiri.

Individu asosial memilih untuk tidak terlibat dalam interaksi secara sukarela dengan lingkungannya karena merasa tidak tertarik dengan kelompok sosial dan hanya fokus pada dirinya sendiri. Ketidakterlibatan dalam interaksi sosial ini akan berdampak pada kualitas tingkah laku individu tersebut seperti kurangnya empati kepada sesama dan kadang kasar.

Jadi, apa bedanya Antisosial dan Asosial?

Individu dengan sikap asosial membuatnya kurang atau bahkan tidak termotivasi untuk berinteraksi sosial karena sikap asocial ini mempunyai kepekaan sosial yang kurang dengan terlalu mementingkan diri sendiri. Sementara antisosial merupakan gangguan kepribadian pada individu yang membuatnya membenci orang lain maupun tatanan sosial pada umumnya.

Berbeda dengan sikap asosial yang menjauhkan diri dari lingkungannya, individu dengan gangguan antisosial akan tetap melakukan kegiatan bersosial bahkan memungkinkan untuk memiliki teman.

Itulah perbedaan antara antisosial dengan asosial Sahabat Asisya, jangan sampai nanti kita keliru ya.

Jika kamu memiliki sikap asocial dan mulai mengganggumu atau bahkan memiliiki ciri-ciri dari gangguan kepribadian antisosial yang telah disebutkan segeralah mencari bantuan psikolog atau psikiater.

Asisya Consulting memberikan layanan tes psikologi dan konseling yang dapat dilakukan secara offline maupun online.

 

Sumber:

Davidson, G. M., Neale, J.M., Kring., A. M. 2019. Psikologi Abnormal. Depok: Rajawali Pers.

Budiarti, M. Krisnani, H., Deraputri, G.N.I. 2017. Gangguan Kepribadian Antisosial pada Narapidana. Jurnal Social Work, Vol. 7 No. 2, hal. 18-27.

Zhafira, T. 2018. Sikap Asosial Pada Remaja Era Millenial. Jurnal SOSIETAS, Vol. 8, No. 2.

http://repository.uma.ac.id/bitstream/123456789/1605/5/098600193_file5.pdf diakses pada 30 April.

]]>
https://asisyaconsulting.com/antisosial-dan-asosial-sama-gak-sih/feed/ 0
Cinderella Complex: Sebuah Syndrom pada Perempuan https://asisyaconsulting.com/cinderella-complex-sebuah-syndrom-pada-perempuan/ https://asisyaconsulting.com/cinderella-complex-sebuah-syndrom-pada-perempuan/#respond Fri, 09 Apr 2021 09:05:02 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=403 Oleh Tri Sulastri

 

Sahabat Asisya, pernahkah kalian mendengar teman kalian yang ingin menikah saja karena tidak ingin menanggung beban hidup? Atau mungkin kalian salah satunya?

Wah hati-hati Sahabat Asisya. Ada loh satu istilah yang menggambarkan kecenderungan yang ini. Tahukah kalian apa itu?

Istilah ini diambil dari salah satu dongeng yang menceritakan tentang gadis baik hati yang mengalami berbagai penyiksaan ketika tinggal bersama ibu tiri dan saudara tirinya. Lalu kehidupannya berubah bahagia ketika bertemu seorang pangeran yang menemukan sepatu kacanya. Ya, kalian pasti tahu itu adalah dongeng Cinderella.

Kisah Cinderella digunakan oleh Colette Dowling untuk diperkenalkan sebagai sebuah istilah yaitu Cinderella Complex. Istilah ini mengacu pada kondisi ketergantungan psikologis perempuan yang memiliki keinginan mendalam untuk dirawat dan dilindungi oleh orang lain terutama laki-laki, serta keyakinan bahwa suatu dari luarlah yang akan menolongnya (Dowling, 1995; Zain, 2016).

Ketergantungan tersebut ditunjukkan dengan ketakutan akan kemandirian yang terkadang tidak disadari oleh perempuan itu sendiri. Cinderella Complex cenderung menyerang perempuan berusia enam belas tahun atau tujuh belas tahun, hingga kerap kali menghalangi mereka melanjutkan pendidikan. Selain itu, juga mempercepat pernikahan dini karena berpikir bahwa menikah adalah sebuah solusi ketidakberdayaannya. Bukan keputusan untuk menikah yang dianggap salah, namun keputusan untuk tidak mau berjuang dan memilih bersembunyi dibalik peran pernikahan-lah yang dikhawatirkan pada Cinderella Complex.

Hal ini pun bukan hanya dialami oleh anak-anak maupun remaja loh Sahabat Asisya, bahkan juga perempuan dewasa pun dapat mengalaminya. Ketergantungan pada perempuan dimana mereka tidak memperlihatkan gerak kemandiriannya semakin meningkat seiring bertambahnya usia (Elizabeth dan Douvan; Dowling, 1995; Hapsari, Mabruri, dan Hendriyani, 2014).

Tanda kamu mengalami Cinderella Complex

Tidak selalu Cinderella Complex dicirikan sebagai wanita manja bahkan perempuan yang tampak mandiri pun dapat mengalaminya. Meskipun tidak ada gejala khusus namun perempuan dengan Cinderella Complex umumnya mengalami kesulitan untuk menentukan keputusannya sendiri. Hal ini mengakibatkan ia bergantung pada keputusan atau pilihan pasangannya, hingga ia terbiasa menerima control terhadap dirinya sendiri dari luar.

Perempuan dengan Cinderella Complex pun seringkali merasa cemas saat memikirkan hidup sendirian, sulit mempertahankan suatu pekerjaan, dan menghindari tantangan. Ia pun kesulitan atau mungkin tidak mau keluar dari zona nyamannya. Seringkali mereka mengungkapkan secara langsung maupun tidak langsung bahwa mereka ingin diperhatikan. Dengan begitu, ia mengharapkan pasangan yang dapat menyelamatkan dirinya dengan melindungi dan menyediakan segala kebutuhannya.

Individu dengan Cinderella Complex akan berpengaruh terhadap cara berinteraksi dengan lingkungannya dan ketika menghadapi kesempatan untuk mengembangkan diri atau permasalahannya. Perempuan tersebut akan cenderung untuk tidak percaya pada kemampuannya sehingga tidak ingin mengembangkan potensinya.

Penyebab Cinderella Complex

Sudah dikatakan bahwa hampir semua perempuan pernah mengalami Cinderella Complex, namun apa saja sih yang memungkinkan Cinderella Complex ini terjadi? Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhinya:

  1. Pola asuh orang tua

Orang tua yang sangat over-protektif menyebabkan anak tidak dapat mengembangkan kemandiriannya hingga membuatnya ketergantungan dengan sikap mereka. Anak akan terbiasa diatur sedemikian rupa dalam berperilaku sehingga memungkinkan tidak dapat menentukan keputusannya sendiri. Bahkan, tak jarang orang tua yang mendorong anak laki-lakinya menjadi lebih mandiri daripada anak perempuannya.

  1. Kematangan kepribadian

Kematangan disebut sebagai proses mencapai kedewasaaan. Perempuan dengan kematangan kepribadian yang rendah tumbuh berdasarkan penilaian orang lain dan dipengaruhi lingkungan mengakibatkan perempuan mengalami kecenderungan Cinderella complex.

  1. Konsep diri

Konsep diri yang negatif akan membawa perempuan untuk menilai rendah dirinya. Hal ini mengakibatkan ia merasa bahwa dirinya tidak cukup berharga dibandingkan orang lain dan sulit menerima dirinya secara apa adanya. 

  1. Sosial-budaya

Norma dan nilai yang kental akan prinsip patriarkis membentuk stereotip dimana menempatkan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Nilai yang didukung oleh banyak masyarakat memungkinkan normalisasi akan stereotip tersebut terjadi hingga membatasi ruang gerak perempuan. Hal ini menyebabkan perempuan merasa rendah diri, tidak berdaya, bahkan membenarkan bahwa ia tidak bisa berdiri sendiri.

Adakah cara untuk mengatasinya?

Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah mengenali dengan baik dirimu sendiri. Kenali apa saja yang menjadi kelebihan dan kekuranganmu serta sebesar apa ketakutan itu mempengaruhimu. Kamu pun bisa melakukannya dengan menulis jurnal tentang mimpi yang ingin kau raih dan realitas yang harus dihadapi.  

Memperbanyak bacaan dan berbagi tentang perasaanmu dengan teman-teman disekitar dapat memberikan mu wawasan baru untuk menghadapi tantangan dalam hidup. Mulailah merencanakan dari hal-hal kecil untuk perlahan meraih mimpimu. Tumbuhkan keyakinan dalam diri bahwa kamu bisa menjadi lebih dari apa yang kamu bayangkan.

Orang tua pun dapat melakukan usaha untuk mengurangi kemungkinan Cinderella complex dengan memberi kepercayaan kepada anak. Mulailah untuk membimbing anak menentukan keputusannya sendiri dan mendorongnya untuk menjadi lebih mandiri. Dengan begitu, anak akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan berani untuk bertanggung jawab.

Perlu diingat bahwa Cinderella Complex ini belum bisa dianggap menjadi gangguan psikologis. Jika sikap ketergantungan yang kamu rasakan mulai mengganggu aktivitasmu dan hubunganmu dengan orang lain, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter atau psikolog. Ingat, self-diagnosis dapat berbahaya jika tanpa konsultasi ahli.

 

Sumber:

Hapsari, A.D., Mabruri, M. I., & Hendriyani, R. 2014. Cinderella Kompleks pada Mahasiswi di Universitas Negeri Semarang. Jurnal Developmental and Clinical Psychology, Vol. 3, No.1

Zain, T. S. 2016. Cinderella Complex dalam Perspektif Psikologi Perkembangan Sosial Emosi. Jurnal Indigenous, Vol. 1, No. 1, hal. 92-98.

]]>
https://asisyaconsulting.com/cinderella-complex-sebuah-syndrom-pada-perempuan/feed/ 0