Pandemi COVID-19 mengakibatkan berbagai perubahan salah satunya ialah budaya stay at home atau tetap di rumah. Mulai dari kerjaan yang memberlakukan Work From Home (WFH) hingga sector pendidikan yang dilaksanakan secara daring.
Ketika kita berada di rumah saja, waktu luang yang dimiliki bertambah lebih dari biasanya saat telah menyelesaikan pekerjaan maupun belajar daring. Banyaknya waktu yang tersisa memungkinkan untuk memunculkan rasa jenuh bahkan stress pada sebagian orang.
Tapi Sahabat Asisya, di rumah saja bukan berarti membatasi kita menjadi pribadi yang produktif. Kita bisa loh untuk tetap produktif dengan memanfaatkan waktu luang tersebut. Berikut ini ada beberapa cara yang bisa kamu ikuti untuk mengurangi rasa jenuh dan tetap produktif selama di rumah saja.
Menjalani aktivitas sehari-hari dimana kita pergi ke kantor dan pulang pada sore atau bahkan malam hari, terkadang kita tidak sempat untuk memperhatikan kesehatan.
Padahal kesehatan merupakan hal terpenting dalam situasi seperti ini. Dengan tubuh yang sehat pun, kita dapat melakukan berbagai kegiatan dengan penuh semangat.
Maka ketika banyak kegiatan yang dilakukan di rumah cobalah untuk menyempatkan melakukan olahraga. Misalnya yoga atau workout yang dapat dilakukan dari rumah. Bukan hanya itu, kamu pun bisa coba untuk lebih memperhatikan pola makan mu yang mungkin tidak sempat kamu lakukan ketika situasi di luar pandemic.
Kelamaan di rumah saja bisa membuat bosan dan jenuh. Untuk mengatasi itu, mungkin beberapa dari kalian melakukannya dengan ‘jajan’ atau memesan makanan cepat saji fast food.
Tidak ada yang salah jika kamu memesan hanya seskali, namun jika terus dilakukan dapat bisa membahayakan kesehatanmu.
Waktu senggang saat di rumah bisa kamu gunakan untuk mencoba berbagai resep makanan yang belum pernah kamu coba.
Dengan begitu kamu juga dapat meningkatkan kemampuan memasakmu dan mengurangi pengeluaran sehari-hari.
Mulai dari sebelum kamu tidur atau saat kamu bangun di pagi hari, cobalah untuk merencanakan sehari penuh.
Apa yang akan kamu lakukan untuk hari ini? Berapa lama kamu akan melakukannya? Setelahnya apa yang akan kamu lakukan?
Kamu dapat memulai dengan pertanyaan tersebut. Jangan lupa memberikan waktu istirahat. Hal ini menjadi penting untuk mengisi tenaga kembali setelah terkuras akibat aktivitas sebelumnya.
Mengatur rencana ini dapat juga kamu lakukan dengan membuat daftar yang disertai tujuan dan prioritasmu. Dengan begitu, kamu bisa lebih fokus dan disiplin.
Memiliki waktu senggang saat di rumah saja menjadi momen yang paling pas untuk kamu mencoba hal-hal baru yang belum pernah atau tidak sempat kamu lakukan.
Misalnya seperti bermain music, bernyanyi, melukis, bercocok tanam, belajar bahasa baru, berjualan secara daring dsb.
Kamu dapat mencoba hal-hal yang ingin kamu lakukan. Siapa tahu kamu dapat menemukan bakat terpendam mu. Bahkan menemukan peluang bisnis yang dapat menambah keuanganmu.
Ketika mencoba untuk produktif di rumah mungkin terasa lebih berat saat di kantor atau di sekolah.
Namun ketika berada di lingkungan rumah, kamu mungkin akan mendapati berbagai gangguan seperti kebisingan dari tetangga atau notifikasi media sosial, dsb.
Jika itu gangguan dari luar dirimu maka kamu dapat mengatasinya dengan masuk ke kamar atau membuat setting tempat yang nyaman untuk mu bekerja.
Lain halnya jika gangguan dari dalam diri yang mungkin terjadi sebab tidak ada pihak pengawas berbeda dengan kantor atau sekolah dalam hal ini misalnya atasan atau guru. Mereka yang mungkin akan menegurmu ketika hilang fokus tidak ditemukan di rumah.
Mematikan notifikasi ketika bekerja atau belajar menjadi hal yang patut dicoba untuk kembali fokus pada pekerjaanmu.
Itulah beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk tetap produktif selama di rumah saja. Jika kamu masih memiliki kesulitan dalam kegiatan sehari-hari, kamu dapat berkonsultasi dengan psikolog dan konselor terpercaya dari Asisya Consulting.
]]>Oleh Tri Sulastri
Dalam kehidupan sehari-hari, rasanya kita akan berbohong jika menjawab tidak untuk pertanyaan ‘apakah anda pernah berbohong dalam seumur hidup mu?”
Yap, banyak sekali kebohongan yang kita buat ataupun kita dengar di sekitar kita. Berbagai alasan yang melandasinya seperti untuk menjaga pertemanan, untuk menjaga perasaan, dan lain sebagainya digunakan untuk melancarkan kebohongannya.
Tapi, tahukah kalian bahwa kebohongan pun memiliki beberapa jenis? Apa sajakah itu? Berikut ini Asisya Consulting telah menuliskannya menjadi 4 Jenis Kebohongan di Sekitar Kita antara lain:
Jenis kebohongan ini sering juga disebut sebagai kebohongan yang baik. White lies mengacu pada kebohongan yang dilakukan dengan tujuan agar tidak menyakiti orang lain serta menghindari situasi yang tidak menyenangkan. Contohnya, jika masakan seseorang teman yang dirasa hambar namun teman lain berkata enak agar tidak menyinggung perasaan temannya tersebut. Maka itulah kebohongan putih yang dilakukan dalam upaya tidak menyakiti perasaan temannya tersebut dan menghindari situasi jika temannya akan marah. Kebohongan ini biasa digunakan terutama dalam bersosialisasi.
Sesuai namanya, jenis kebohongan ini dilakukan untuk melindungi diri sendiri untuk merasa lebih baik atau dari situasi yang membuat individu merasa tidak nyaman. Contohnya, kebohongan ini biasanya dilakukan dengan menekan emosi yang dirasakan seperti berkata ‘saya tidak apa-apa’ atau ‘aku baik-baik saja’ dan bertindak seolah tidak peduli. Jenis kebohongan ini juga dapat membahayakan psikis seseorang jika dilakukan terus menerus karena tidak mengeluarkan emosi yang tepat.
Untuk jenis ini, kebohongan yang dilakukan ialah untuk mendapatkan perhatian dan terlihat lebih ‘keren’, atau biasa disebut pencitraan. Bagi pelaku dengan kebohongan ini, berbohong merupakan sebuah kebiasaan yang dilakukan untuk memperoleh rasa aman. Mereka cenderung berbohong dengan melebih-lebihkan kemampuan dirinya sendiri atau mencari kesan baik. Kebohongan ini pun dapat membuat individu kesulitan untuk berhenti berbohong demi menutupi kebohongan sebelumnya.
Jenis kebohongan ini merupakan kebohongan yang sulit dideteksi. Orang-orang yang melakukan kebohongan ini sudah handal dalam melakukan kebohongannya. Sebab kebohongan seperti sudah menjadi bagian dari hidupnya dan sering merasa tidak bersalah dengan perbuatannya. Mereka sudah merencanakan kebohongan tersebut untuk mencapai tujuannya. Sifat mereka pun dapat manipulative dan hanya melihat situasi dari sudut pandang sendiri.
Itulah beberapa jenis kebohongan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Baik berbohong dalam tujuan baik apalagi tidak baik, tetap saja berbohong yang mungkin akan dapat ganjarannya. Jika kamu melakukan kebohongan dan bahkan kamu sulit untuk menghentikannya, segeralah untuk mencari pertolongan. Kamu dapat menggunakan layanan Asisya Consulting dengan berkonsultasi dengan psikolog terpercaya.
Sumber:
https://www.stylecraze.com/articles/types-of-liars/
https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/beda-pembohong-patoligis-dan-kompulsif/
]]>Oleh Tri Sulastri
Sahabat Asisya, pernah gak sih kalian merasa seakan semua orang memperhatikanmu ketika berada di keramaian? Padahal kenyataannya tidak begitu.
Salah satu contohnya, saat kamu pergi ke suatu acara dan tidak percaya diri dengan pakaianmu karena merasa kurang cocok. Lalu kamu merasa bahwa semua orang akan memperhatikan bahkan membicarakanmu.
Situasi tersebut mungkin sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari dimana kamu merasa bahwa semua mata tertuju pada dirimu. Nah, dalam perspektif psikologi fenomena ini disebut spotlight effect. Apa itu? Simak informasinya ya!
Apa itu spotlight effect?
Dilansir dari psychologytoday.com, spotlight effect merupakan kecenderungan untuk berpikir bahwa orang lain memperhatikanmu lebih dari yang sebenarnya. Bisa dibilang istilah ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung berpikir bahwa dirinya menjadi pusat perhatian padahal kenyataannya tidak demikian.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gilovich, dkk (200) mereka membuktikan bahwa orang-orang cenderung melebih-lebihkan sejauh mana tindakan dan penampilan mereka diperhatikan oleh orang lain.
Para peneliti American Psychological Association (APA) tersebut melakukan t-shirt eksperimen dengan membagi dua kelompok untuk menggunakan baju yang dianggap memalukan dan lebih keren sebelum memasuki ruang kelas. Kelompok pertama menggunakan baju yang menggambarkan Barry Manilow sementara kelompok kedua menggunakan baju bergambar Bob Marley, Jerry Seinfeld, dan Martin Luther King, Jr.
Kemudian peserta diminta untuk memprediksi berapa banyak orang yang akan memperhatikannya. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak lebih dari setengah persen dari yang mereka kira akan memperhatikan mereka.
Penelitian ini pun juga menunjukkan orang-orang cenderung percaya bahwa tindakan positif maupun negatif mereka lebih menonjol daripada orang lain. Para peneliti meminta partisipan untuk memperkirakan peringkat positif dan negative mereka yang diberikan oleh anggota kelompok. Peringkat positif untuk yang dapat menjalankan diskusi dengan baik dan peringkat negative untuk anggota yang sering salah bicara. Hasilnya menunjukkan jika peserta melebih-lebihkan seberapa menonjol diri mereka.
Kenapa spotlight effect bisa terjadi?
Seorang dosen psikologi di University of Lincoln, Nathan Heflick, Ph.D menjelaskan bahwa spotlight effect terjadi sebab egosentrisme pada diri kita. Egosentrisme itu sendiri merupakan kecenderungan memandang dunia dari perspektif pribadi karena mereka adalah pusat dari dunianya. Pengalaman diri kita digunakan untuk mengevaluasi dunia termasuk orang lain. Dengan begitu kita mengasumsikan bahwa orang lain pun memiliki pandangan seperti yang kita pikirkan. Kita terkadang lupa bahwa orang lain pun menjadi pusat dari dunianya sendiri.
Menurut Heflick naïve realism dan bias blind spot pun mempengaruhi terjadinya spotlight effect. naïve realism ialah kecenderungan seseorang untuk percaya apa yang mereka lihat sebagai realitas sebenarnya. Sementara bias blind spot merupakan kecenderungan untuk mengenali dampak bias pada penilaian orang lain tapi tidak dengan bias penilaiannya sendiri. Dengan begitu ia merasa bahwa apa yang ia fokuskan adalah benar, sehingga mereka percaya bahwa orang lain akan memperhatikan pada apa yang mereka fokuskan.
Lalu bagaimana cara untuk mengatasinya?
Sebab utama terjadinya fenomena ini karena egosentrisme seseorang yang membuat kita memandang dunia bahkan orang lain melalui pengalaman dan perspektif kita. Maka cobalah untuk menyadari dan meyakini bahwa setiap orang memiliki egosentrisme nya masing-masing. Mereka adalah pusat dari dunia mereka sendiri dan tidak ada yang benar-benar memperhatikanmu.
Selain itu cobalah untuk meminta pendapat dari rekan, sahabat, atau orang terdekatmu terhadap apa yang kamu fokuskan atau khawatirkan. Dengan begitu kamu memperoleh pandangan orang lain sebagai bahan pertimbanganmu.
Spotlight effect juga berkaitan dengan kecemasan sosial. Hal ini dapat membuat mu menjadi kurang percaya diri, mudah gugup, dan mudah khawatir terhadap pandangan orang lain. Sebab merasa dirinya selalu diperhatikan mereka jadi selalu berhati-hati pada tindakannya. Jika hal ini terus berlanjut maka akan memungkinkan jika kamu mengalami gangguan kecemasan sosial.
Maka saran terakhir, cobalah untuk konsultasikan hal ini dengan konselor atau psikolog kepercayaan mu. Tidak ada yang salah untuk membicarakan keadaan yang mengganggumu dengan ahlinya. Kamu pun dapat menggunakan layanan konseling dan terapi yang ada di Asisya Consulting.
Sumber:
Gilovich, T., Medvec, V. H., & Savitsky, K. (2000). The spotlight effect in social judgment: An egocentric bias in estimates of the salience of one’s own actions and appearance. Journal of Personality and Social Psychology, 78(2), 211–222. doi:10.1037/0022-3514.78.2.211
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-big-questions/201111/the-spotlight-effect
]]>Oleh Tri Sulastri
Persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif menuntut individu untuk terus mengembangkan kemampuan dan keterampilannya.
Dalam upaya untuk mendapatkan karir yang diinginkan, career capital disebut-sebut sebagai hal yang penting untuk dimiliki individu.
Tapi tahukah kalian apa itu career capital?
Dilansir dari 80000hours.org, career capital merujuk pada segala hal seperti keterampilan, jejaring sosial, ataupun sertifikat kemampuan yang membuat Anda berada pada posisi yang lebih baik untuk membuat perubahan di masa depan. Lebih jelas lagi menurut Arthur & Inkson (2001), career capital adalah modal karir berfokus pada kompetensi internal yang dimiliki individu dalam memilih dan mengembangkan karir yang diinginkan sesuai dengan keterampilan dan minat individu.
Terdapat tiga dimensi penting dalam career capital yaitu:
Knowing why
Aspek ini berhubungan dengan pemahaman individu dengan dunia kerja untuk mengejar karir yang diinginkannya.
Knowing how
Aspek ini menitikberatkan pada pengetahuan mengenai keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk menunjang karir individu.
Knowing Whom
Aspek ini berkaitan dengan jejaring sosial atau hubungan sosial dengan yang melibatkan orang-orang yang berpengaruh dalam pengembangan karir Anda.
Lalu bagaimana cara untuk membangun career capital?
Dilansir dari forbes.com, inilah beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk membangun career capital-mu antara lain:
Biasanya kita terfokus pada pola pikir yang untuk mencari passion dan hanya terfokus pada pikiran apa yang akan diberikan oleh pekerjaan kita. Maka cobalah untuk kembangkan pola pikir perajin (craftsman) sehingga kamu akan terfokus pada pikiran untuk menciptakan sesuatu atau ‘memberi’ pada dunia
Dengan mengetahuinya Anda dapat fokus untuk mengembangkannya dan mendapatkan cara yang efektif dalam mencapai tujuan-tujuan Anda.
Melakukan sesuatu yang biasa kita lakukan memang terasa menyenangkan. Namun cobalah untuk mencari dan berlatih dengan hal yang baru untuk terus mengembangkan kemampuan dan keterampilan mu.
Seseorang tumbuh berdasarkan saran dan kritik yang ia dapat. Kita dapat mengetahui bagaimana kinerja kita jika kita mendapatkan feedback dari sekitar kita. Dengan begitu kita dapat meningkatkan kinerja kita atau memperbaikinya jika terdapat kesalahan.
Jika anda merasa bahwa anda menghabiskan banyak waktu, tenaga bahkan uang pada kegiatan yang tidak membantu anda berkembang, cobalah untuk mulai mengurangi hal tersebut.
Jangan pernah bekerja tanpa tujuan yang jelas dan sesuai. Sebab tujuan tersebut dapat memotivasi dan membuat anda mengembangkan keterampilan yang anda miliki.
Untuk mendapatkan hasil yang Anda inginkan tentu saja memerlukan waktu yang mungkin tidak sebentar. Maka cobalah untuk menikmati proses dalam membangun karir yang anda impikan.
Itulah penjelasan mengenai career capital dan beberapa tips yang dapat kamu ikuti untuk membangunnya. Namun jika kamu memiliki masalah dalam pengembangan diri, kamu bisa berkonsultasi dengan Psikolog ahli di Asisya Consulting.
Sumber:
Shin, Laura. 2013. 7 Step to Developing Career Capital and Achieving Success. Frobes.com https://www.forbes.com/sites/laurashin/2013/05/22/7-steps-to-developing-career-capital-and-achieving-success/?sh=680b1e867a9f
Todd, Benjamin. Todd, Benjamin (2014) Which jobs put you in the best long-term position?, 80,000 Hours, October.
Ula, I I., Susilawati, I R., & Wilyasari, S. D. 2015. Hubungan Antara Career Capital dan Work Life Balance pada Karyawan di PT. Petrokimia Gresik. Jurnal Psikoislamika, Vol. 12(1).
]]>
Oleh Tri Sulastri
Sahabat Asisya, kalian punya gak sih teman atau keluarga yang sering melebihkan kemampuan mereka yang mungkin sebenarnya tidak sesuai dengan perkataannya? Bahkan orang tersebut tak jarang merendahkan orang lain karena merasa dirinya paling hebat? Hm, bikin kesal dan jengkel gak sih?
Bukan tanpa sebab, ternyata dalam dunia psikologi fenomena ini disebut sebagai Efek Dunning-Kruger. Tahukah kalian apa itu?
Apa itu Efek Dunning-Kruger?
Efek Dunning-Kruger mengacu pada kondisi dimana seseorang keliru menilai kemampuannya dengan merasa bahwa diri mereka lebih baik dari yang sebenarnya. Individu yang mengalami efek ini tidak mampu untuk mengenali kemampuannya. Menurut Dunning (2011), fenomena ini merupakan bentuk meta-ignorance yang ada pada masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Artinya cukup umum ditemukan di sekitar kita.
Istilah efek Dunning-Kruger diambil dari nama dua peneliti fenomena ini yaitu David Dunning dan Justin Kruger. Mereka mengembangkan teori ini melalui penelitian yang dilakukan pada 1999 untuk melihat sejauh mana partisipan mengenali kemampuan mereka. Hasilnya menunjukkan mereka yang memiliki hasil tes yang rendah melebih-lebihkan kemampuan mereka (Kruger & Dunning, 1999).
Apa penyebab Efek Dunning-Kruger?
Penyebab utama dari efek ini ialah kurangnya kemampuan dan pengetahuan. Hal ini membuat individu tersebut memiliki metacognitive yang kurang. Dalam psikologi, metacognitive merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui seberapa baik kinerjanya.
Akibat kurangnya metacognitive ini, individu mulai merasa percaya diri dan mengembangkan kepercayaan yang salah bahwa mereka memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Jika hal ini sudah terjadi, seterusnya rasa percaya diri individu akan semakin berlebihan yang berujung pada overestimated terhadap kinerjanya.
Apa dampak Efek Dunning-Kruger?
Kruger dan Dunning menyebutkan akibat dari efek Dunning-Kruger ini yaitu bukan hanya individu akan menunjukkan kinerja yang buruk. Namun, efek inipun membuat individu tidak dapat mengenali kemampuannya sehingga tidak dapat belajar dan berkembang.
Selain itu, seperti yang telah dijelaskan jika efek ini membuat individu memiliki kepercayaan diri dan kerap kali melebih-lebihkan kemampuannya. Individu tersebut mungkin akan berpikir bahwa mereka lebih baik dari orang lain hingga berpotensi tidak disukai oleh orang di sekitarnya.
Lalu, gimana caranya agar terhindar dari Efek Dunning-Kruger?
Dilansir dari Journal of Personality and Social Psychology, meningkatkan keterampilan dan kompetensi metakognitif menjadi cara utama untuk terhindar dari efek Dunning-Kruger. Selain itu beberapa cara dibawah ini pun dapat anda lakukan untuk menghindari fenomena ini antara lain:
Itulah informasi mengenai efek Dunning-Kruger yang ternyata sangat sering kita temui di sekitar kita. Tidaklah masalah jika memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan yang kita miliki. Namun, akan jadi masalah jika kita salah menilai dan meyakini kemampuan dengan melebih-lebihkan dari yang sebenarnya.
Jika cara-cara tersebut masih terasa sulit untuk dilakukan, anda dapat bertanya atau berkonsultasi dengan konselor atau psikologi di Asisya Consulting.
Sumber:
Kruger, J., & Dunning, D. (1999). Unskilled and unaware of it: How difficulties in recognizing one’s own incompetence lead to inflated self-assessments. Journal of Personality and Social Psychology, 77(6), 1121–1134. doi:10.1037/0022-3514.77.6.1121
]]>Oleh Tri Sulastri
Sahabat Asisya pernah gak sih kalian merasa bahwa kalian menjadi lebih bijak dalam melihat permasalahan temanmu? Namun ketika kamu dihadapkan pada suatu masalah, kamu tidak bisa menyelesaikannya bahkan meminta saran dari temanmu.
Salah satu kasus yang sering terjadi adalah ketika seseorang meminta saran mengenai hubungan asmara pada temannya. Sementara teman yang dimintai saran tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri atau bahkan tidak sedang terlibat dalam hubungan asmara (re: jomblo).
Inilah yang disebut oleh Igor Grossman dalam Journal of Psychological Science sebagai Paradoks Solomon.
Apa itu Paradoks Solomon?
Paradoks Solomon merupakan istilah yang menggambarkan ketika individu lebih bijak dalam menyelesaikan masalah orang lain daripada masalahnya sendiri.
Dilansir dari Journal of Psychological Science, istilah ini diambil dari nama raja Israel ketiga yaitu Raja Solomon. Semasa pemerintahannya, raja dikenal sebagai orang paling bijak. Rakyatnya pun rela datang dari tempat yang jauh untuk meminta nasihatnya.
Namun, ketika ada masalah dalam hidupnya, Raja Solomon tidak bisa menyelesaikannya. Hal ini pun menjadi salah satu alasan dibalik kehancuran kerajaannya.
Kemudian istilah paradoks Solomon diperkenalkan oleh Igor Grossman, seorang ilmuwan psikologi University of Waterloo. Dalam penelitiannya, ia melakukan eksperimen dengan sekelompok orang yang berada dalam hubungan asmara jangka panjang.
Grossman membagi partisipan menjadi dua kelompok dimana kelompok pertama membayangkan bahwa pasangannya selingkuh. Sementara kelompok kedua diminta untuk membayangkan pasangan temannya selingkuh. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok kedualah yang lebih bijak.
Tapi kenapa ya bisa seperti itu?
Ketika Anda berusaha untuk memecahkan masalah orang lain, Anda memberi jarak antara diri kamu dengan masalah tersebut. Hal inilah yang disebut oleh Grossman sebagai self-distancing.
Saat melakukan self-distancing, Anda cenderung untuk memisahkan diri dari masalah atau peristiwa tersebut sehingga akan mampu berpikir secara lebih rasional.
Sementara, ketika Anda yang mengalami masalah itu sendiri, Anda cenderung fokus pada diri sendiri dan larut dalam masalah yang dialami. Hal ini disebut sebagai self-immersed.
Individu dengan perspektif self-immersed akan melihat masalah dari perspektif egosentris atau pusat pemikirannya. Individu ini akan kesulitan mengatasi masalah sebab tidak bisa melihat masalah tersebut dalam sudut pandang objektifnya. Mereka mungkin terlalu larut dan takut dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi daripada menganalisa penyebab dan solusinya.
Itulah mengapa orang yang tidak berada dalam masalah tersebut bisa lebih bijak dalam memberikan nasihat untuk menyelesaikannya. Maka ketika Anda dihadapkan masalah, cobalah untuk memposisikan diri Anda sebagai orang lain agar bisa melihat masalah dengan objektif dan lebih bijak.
Jika kamu memiliki pertanyaan mengenai masalahmu, kamu bisa menceritakannya ke psikolog dan konselor Asisya Consulting.
Sumber:
Grossman, I., & Kross, E. 2014. Solomon’s Paradox: Self-Distancing Eliminates the Self-Other Asymmetry in Wise Reasoning About Close Relationships in Younger and Older Adults. Journal of Psychological Science, Vol. 25 (8), hal. 1571-1580. doi: 10.1177/0956797614535400
]]>
Oleh Tri Sulastri
Kerja kelompok menjadi sebuah cara dalam melatih kerja sama tim. Namun tak jarang, kita menemukan hambatan-hambatan dalam mewujudkannya. Salah satu hambatannya adalah anggota tim yang tidak bekerja.
Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa tanggung jawab tersebar untuk semua anggota kelompok bukan hanya dirinya. Maka, ia hanya mengerahkan sedikit upaya untuk kelompoknya. Fenomena inilah yang disebut social loafing atau pemalasan sosial,
Apa itu social loafing?
Social loafing (pemalasan sosial) merupakan kecenderungan individu untuk memberikan usaha yang lebih sedikit dalam kelompok daripada bekerja secara individual (Myers, 2012; Pratama & Aulia, 2020). Studi mengenai sosial loafing pertama kali diperkenalkan oleh Ringelmann seorang psikolog di Jerman pada 1920-an.
Dalam penelitiannya, Ringelmann melakukan eksperimen dengan membagi 3 kelompok yang terdiri dari satu orang, 3 orang, dan 8 orang kemudian mengukurnya menggunakan strain gauge (alat untuk mengukur tekanan). Hasilnya menunjukkan bahwa kinerja individu lebih besar dengan presentasi 93 persen, kelompok 3 orang 85 persen sementara kelompok 8 orang hanya 49 persen (Latane, Williams, Harkins, 1979).
Apa penyebab social loafing?
Social loafing terjadi sebab individu merasa bahwa usaha mereka tidak dapat dibedakan ketika berada dalam kelompok. Individu tersebut bisa bersembunyi di dalam kelompok dan menghindari konsekuensi dari kemalasan mereka.
Hasil kerja dalam kelompok tersebut akan dinilai sebagai hasil kerja kelompok daripada individu. Maka apresiasi dan kesalahan pun akan diberikan untuk keseluruhan kelompok. Individu dengan sikap ini biasanya merasa bahwa akan ada orang lain yang menyelesaikan tugasnya.
Hal ini tentu berbeda ketika mereka bekerja secara individu, yang berarti tanggung jawab dan penilaian untuknya sepenuhnya.
Lalu apa yang harus kita lakukan?
Beberapa penyebab lain social loafing adalah tidak adanya evaluasi untuk kontribusi individu dalam kelompok dan pembagian tugas yang tidak jelas.
Maka, cobalah untuk membuat pembagian tugas yang adil dan jelas. Tentukan deadline untuk masing-masing tugas sehingga tidak perlu menunggu untuk tugas yang lain.
Selain itu, buat evaluasi untuk masing-masing kinerja anggota kelompok. Berilah penguatan positif seperti mengucapkan terima kasih untuk setiap kontribusi. Anda juga bisa memberi saran dan kritik yang membangun. Dengan begitu, individu akan menyadari bahwa ia mempunyai tanggung jawab dan peran yang penting dalam kelompok.
Terakhir dan terpenting ialah menjaga komunikasi antar anggota tim agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Memiliki sikap social loafing dapat memberi dampak untuk kelompok dan dirinya sendiri. Bagi kelompok mereka akan kesulitan untuk mencapai tujuannya dan menurunkan kualitas kerja. Sementara bagi individu, social loafing dapat menghambat pengembangan kompetensi seperti kerja sama tim dan komunikasi interpersonal. Selain itu, individu dengan sikap ini sulit untuk mengembangkan empati serta menurunnya kredibilitas hingga kehilangan kepercayaan dari anggota tim.
Maka ingatlah Sahabat Asisya, tugas kelompok adalah tugas yang dikerjakan secara kolektif atau bersama. Maka cobalah berlatih dengan mengerjakan tugas dan tanggung jawab anda dengan baik.
Jika kamu memiliki pertanyaan lain mengenai perkembangan diri, kamu dapat menanyakannya pada konselor atau psikolog Asisya Consulting.
Sumber:
Latane, B. Williams, K., & Harkins, S. 1979. Many hands make light the work: The causes and consequences of social loafing. Journal of Personality and Social Psychology, 37 (6), 822-832. doi.org/10.1037/0022-3514.37.6.822.
Pratama, K.D & Aulia, F. 2020. Faktor-Faktor yang Berperan dalam Pemalasan Sosial (Social Loafing); Sebuah Kajian Literatur. Jurnal Pendidikan Tambusai, 4 (2), 1460-1468. doi.org/10.31004/jptam.v4i2.611.
]]>
Oleh Tri Sulastri
Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Begitu pula dalam sebuah keluarga, tidak ada anak yang memiliki sifat atau karakter kepribadian sama bahkan anak kembar sekalipun. Mulai dari anak sulung, tengah, hingga bungsu memiliki keunikannya masing-masing
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan sifat tersebut ialah urutan kelahiran dalam sebuah keluarga. Urutan kelahiran ini menjadi salah satu faktor pembentuk kepribadian yang bersumber dari pola asuh atau lingkungan keluarga tempat anak tumbuh.
Bahkan menurut Hurlock (2013), urutan kelahiran dapat menentukan dan memberikan pengaruh terhadap perkembangan diri seseorang. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan perlakuan dalam pola asuh orang tua berdasarkan urutan kelahirannya.
Nah, berikut ini adalah ciri umum anak berdasarkan urutan kelahirannya menurut Hurlock (2013) antara lain:
1. Anak sulung
Biasanya menunjukkan perilaku matang atau lebih dewasa karena berhubungan dengan orang-orang dewasa dan sebab diharapkan memikul tanggung jawab. Oleh sebab itu, mereka sering tidak suka terhadap harapan untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya dan pengasuh mereka.
Selain itu, mereka sering merasa tidak bahagia karena timbulnya perasaan kurang aman akibat berkurangnya perhatian orang tua dengan kelahiran adik-adiknya. Pada kasus tertentu, anak sulung biasanya berprestasi tinggi atau bahkan sangat tinggi sebab adanya tekanan dan harapan orang tua. Hal ini juga dapat didasari keinginannya untuk memperoleh kembali perhatian orang tua yang sebelumnya berkurang.
Mereka yang terlahir sebagai anak sulung pun cenderung mengembangkan kemampuan memimpin sebagai akibat tekanan dari keharusan memikul tanggung jawab di rumah.
2. Anak tengah
Anak tengah merupakan anak yang memiliki karakter paling berbeda dengan kakak atau adiknya. Mereka cenderung memiliki rasa iri hingga tak jarang memberontak untuk menarik perhatian orang tua bagi dirinya sendiri dan merebutnya dari kakak atau adiknya. Mereka merasa terganggu oleh perasaan diabaikan oleh orang tuanya yang dapat mendorong timbulnya gangguan perilaku.
Selain itu, anak tengah cenderung sering menganggu adik-adinya yang memperoleh lebih banyak perhatian. Mereka pun tidak menyukai keistimerwaan yang diperoleh kakak-kakaknya.
Anak tengah cenderung mengembangkan kebiasaan tidak berprestasi tinggi karena kurangnya tekanan untuk berprestasi. Mereka juga cenderung diberikan tanggung jawab lebih sedikit bila dibandingkan anak sulung sehingga melemahkan sifat kepemimpinannya. Meskipun begitu, anak tengah cenderung mandiri akibat dari kebebasan yang lebih banyak dari anak pertama. Mereka pun mampu bersikap ramah dan bersosialisasi pada orang lain.
3. Anak Bungsu
Sebab dilimpahkan oleh kasih sayang orang tua, anak bungsu memiliki rasa aman lebih besar. Mereka pun cenderung keras dan banyak menuntut sebagai akibat kurang tegas pendisiplinan dan dimanjakan oleh anggota keluarga.
Lalu, sebab anak bungsu biasanya menjadi target dari serangan kakak-kakaknya, biasanya mereka mendapat perlindungan dari orang tuanya. Sehingga dapat mendorong pada ketergantungan dan kurangnya rasa tanggung jawab yang menyebabkan jiwa kepemimpinannya melemah.
Namun, mereka dapat membina hubungan sosial yang baik di luar rumah dan cenderung popular di kalangan teman-temannya. Mereka pun cenderung merasa bahagia karena memperoleh perhatian dari keluarganya.
Itulah beberapa karakteristik atau ciri umum yang menggambarkan anak dengan masing-masing sifatnya. Tentu saja ciri-ciri tersebut tidak bisa diaplikasikan atau menjadi standar ukuran untuk sifat seseorang.
Telah disebutkan bahwa perbedaan pola asuh terhadap urutan kelahiran anak lah yang menjadi sumber mengapa hal ini dapat menentukan atau mempengaruhi perkembangan diri seseorang. Oleh sebab itu Sahabat Asisya, memahami karakteristik anak sangat penting untuk dapat menerapkan pola asuh yang sesuai.
Jika kamu masih memiliki pertanyaan atau kesulitan dalam pola asuh anak, kamu dapat bertanya kepada psikolog atau konselor Asisya Consulting. Kamu dapat melakukannya melalui konseling offline dengan langsung dapat ke kantor ataupun secara online.
Sumber:
Hurlock, Elizabeth B. 2013. Perkembangan Anak; Jilid 1 Edisi 6. Erlangga: Jakarta.
]]>Oleh Tri Sulastri
Beberapa orang merasa kehilangan semangat atau bahkan stress saat menghadapi hari senin. Sebab mungkin rasa kebebasan pada akhir pekan direnggut dan harus menghadapi rutinitas yang tidak bisa dihindari. Kebencian terhadap hari senin ini disebut dengan istilah Monday blues.
Monday Blues merupakan istilah yang mendeskripsikan emosi negatif yang dirasakan pada hari senin mencakup kelelahan, putus asa, dan merasa pekerjaan tidak menyenangkan namun tidak dapat dihindari. Hal ini dapat disebabkan karena pola perubahan tidur, kelelahan di akhir pekan, dan tidak siapnya mental karena harus kembali ke rutinitas. Biasanya mulai dirasakan ketika minggu sore atau malam.
Namun, meskipun terlihat bahwa Monday blues adalah hal yang umum di masyarakat. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan produktivitas yang akan mengurangi kualitas pekerjaan hingga pada gangguan kesehatan psikologis seperti mood swing atau depresi.
Lalu bagaimana cara kita menghadapinya?
Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengatasi Monday blues, antara lain:
Seperti yang disebutkan pada artikel sebelumnya bahwa perubahan pola tidur dengan membayar ‘utang tidur’ di akhir pekan akan merubah jam tubuh. Maka usahakan untuk mengatur waktu tidur teratur pada hari kerja agar tidak merubah susunan pola tidur di akhir pekan. Dengan begitu anda akan bangun dengan merasa segar sama seperti pada hari lainnya.
Terkadang kita membuat daftar untuk melakukan hal-hal yang kita sukai pada akhir pekan. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa kita sangat menantikan akhir pekan.
Maka, cobalah untuk mengubahnya. Buatlah daftar hal-hal menyenangkan yang anda nantikan di tempat kerja anda. Misalnya bertemu rekan kerja, menikmati makan siang, atau hal-hal menyenangkan lainnya.
Dengan membuat daftar tersebut mungkin akan memberikan mood positif sehingga anda lebih bersemangat untuk pergi bekerja.
Lagu dipercaya dapat berfungsi sebagai relaksasi dan mengurangi stress. Selain itu, menurut openminds.org, memainkan music bahagia dengan tempo tinggi dan cepat dapat meningkatkan mood dan motivasi. Maka cobalah mendengarkan music untuk mendapatkan motivasi tambahan dalam bekerja.
Jika bisa cobalah untuk menghabiskan akhir pekan dan nikmati waktu untuk anda sendiri. Setelah seminggu bekerja anda dapat menjadikan akhir pekan untuk waktu me-time atau memberi reward pada diri anda.
Anda dapat melakukannya dengan merencanakan sesuatu yang berbeda pada hari yang lain dapat menjadi cara untuk melepas stress bekerja terutama di hari senin. Baik pergi dengan teman, pergi ke tempat makan favorit, atau menghabiskan waktu untuk melakukan yang anda suka. Hal ini dapat menjadi sesuatu yang anda nantikan sepanjang waktu kerja anda.
Cobalah untuk mempraktekkan beberapa cara tersebut agar lebih bersemangat menjalani kegiatan di hari senin. Bagaimanapun tidak ada yang bisa menghentikan datangnya senin begitupun dengan pekerjaan kita.
Senin dapat terasa seperti hari-hari lainnya, hanya bagaimana cara kita untuk mengatur dan mengatasinya. Jika kamu masih memiliki pertanyaan tentang cara mengubah perilaku malas atau meningkatkan suasana hati, kamu bisa tanyakan langsung pada psikolog dan konselor Asisya Consulting.
Sumber:
https://www.openminds.org.au/news/5-positive-effects-music-mental-health
]]>Oleh Tri Sulastri
Sahabat Asisya, pasti istilah butterfly hug tidak lagi asing didengar. Terutama bagi sahabat asisya pecinta drama korea pasti tahu kalau itu ada di salah satu adegan drama It’s Okay Not to be Okay.
Namun untuk kalian yang belum mengetahuinya, berikut ini beberapa informasi mengenai butterfly hug untuk menambah informasi kalian. Simak informasinya yuk!
Apa sih butterfly hug itu?
Pertama kali diperkenalkan pada 1998, Butterfly Hug ini dibuat dan diperkenalkan oleh Lucy Artigas selama ia bekerja dengan orang-orang yang selamat dari badai Paulina di Acapulco, Mexico.
Butterfly hug merupakan salah satu metode dalam terapi Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EDMR). Terapi tersebut digunakan untuk merawat penderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). EDMR juga dapat digunakan untuk menenangkan diri kita dan menurunkan tingkat stress serta kembali ke waktu saat ini (mindfulness).
Bagaimana cara melakukannya?
Berikut panduan yang diberikan EMDR Foundation yang dapat anda coba:
Apa tujuan Butterfly Hug?
Tujuan utama dari metode ini adalah untuk menstabilkan emosi. Namun lebih jelasnya menurut Association for Comprehensive Energy Psychology, butterfly hug bertujuan untuk membuka hati, menyeimbangkan belahan otak kiri dan kanan, serta membantu menyelesaikan emosi setelah trauma.
Itulah informasi mengenai butterfly hug. Metode ini dapat anda coba sendiri ketika anda mengalami stress, cemas atau ledakan emosi sehingga dapat membantu anda menjadi lebih tenang.
Namun, jika anda masih kesulitan dalam mengatur emosi anda. Lebih baik untuk menemui tenaga ahli untuk membantu mengatasinya. Anda juga dapat menggunakan layanan konseling baik online maupun offline yang disediakan oleh Asisya Consulting.
Sumber:
https://emdrfoundation.org/toolkit/butterfly-hug.pdf
https://www.crowe-associates.co.uk/psychotherapy/butterfly-hug-method/
]]>