Deprecated: Creation of dynamic property Flatsome_Envato::$slug is deprecated in /home/asisgcom/public_html/wp-content/themes/flatsome/inc/classes/class-flatsome-envato.php on line 47

Deprecated: version_compare(): Passing null to parameter #1 ($version1) of type string is deprecated in /home/asisgcom/public_html/wp-content/themes/flatsome/inc/classes/class-flatsome-upgrade.php on line 115

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/asisgcom/public_html/wp-content/themes/flatsome/inc/classes/class-flatsome-envato.php:47) in /home/asisgcom/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
kesehatan mental – Asisya Consulting https://asisyaconsulting.com Biro Jasa Konsultasi Psikologi Thu, 12 Aug 2021 10:11:00 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.7.11 https://asisyaconsulting.com/wp-content/uploads/2014/03/cropped-favicon-32x32.png kesehatan mental – Asisya Consulting https://asisyaconsulting.com 32 32 Setiap Orang Dapat Memberikan Psychological First Aid, Tapi Gimana Caranya? https://asisyaconsulting.com/setiap-orang-dapat-memberikan-psychological-first-aid-tapi-gimana-caranya/ https://asisyaconsulting.com/setiap-orang-dapat-memberikan-psychological-first-aid-tapi-gimana-caranya/#respond Thu, 12 Aug 2021 10:11:00 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=517 Sumber: freepik.com

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita seringkali melihat orang lain yang sedang mengalami peristiwa buruk yang membuatnya bersedih hati.

Kamu mungkin ingin menolongnya, namun merasa ragu karena tidak memiliki latar belakang psikologi, konseling, atau sejenisnya. Sehingga membuatmu kebingungan harus melakukan apa untuk membantunya.

Namun sebenarnya, setiap orang dapat melakukan Pertolongan Psikologis Pertama atau Psychological First Aid (PFA). Sama halnya dengan pertolongan pertama pada kecelakaan, PFA pun dapat diberikan pada orang yang membutuhkannya oleh siapa saja. Tentunya setelah mempelajari dan dilakukan dengan rasa tanggung jawab.

Jadi apa itu Psychological First Aid?

Menurut WHO, PFA merupakan sebuah respon atau tindakan manusiawi dan suportif pada seseorang yang membutuhkan dukungan. Dalam hal ini respon atau tindakan tersebut bisa berupa menjadi pendengar, menghibur dan membantu mereka merasa tenang, membantu untuk terhubung dengan jasa atau layanan bantuan lebih lanjut, dsb.

PFA ini erat kaitannya pada mereka yang baru mengalami bencana alam. Namun, dalam WHO (2020), PFA diperuntukkan bagi orang-orang dalam “kondisi tertekan atau tidak menyenangkan, dan baru saja mengalami kejadian kritis.”

Tentu saja, kondisi tertekan dan kritis tersebut berbeda bagi setiap orang. Jadi, bukan hanya mereka yang baru saja mengalami bencana alam, tapi bagi siapa saja yang sedang mengalami peristiwa tidak menyenangkan.

Lalu bagaimana cara memberikan FPA?

Dalam buku panduan yang diterbitkan WHO (2020), berikut beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

Menerapkan Komunikasi yang Baik

Berhadapan dengan seseorang yang baru saja mengalami peristiwa tidak menyenangkan haruslah berhati-hati. Sebab mereka yang sedang bersedih hati  cenderung mudah tersinggung dengan perkataan orang lain.

Saat berkomunikasi, kamu harus peka terhadap bahasa tubuh seperti ekspresi, isyarat tubuh, serta kata-katamu sendiri. Jangan memaksa mereka untuk bercerita. Mereka yang membutuhkan pertolongan mungkin masih shock atau terpukul hingga tidak tahu bagaimana untuk menceritakannya.

Melakukan Persiapan

Menurut WHO (2020) ada tiga hal yang dapat dilakukan antara lain mempelajari situasi, layanan dan dukungan, serta keselamatan dan keamanan.

Sebelum menolong mereka, edukasi diri mengenai apa yang orang tersebut hadapkan menjadi poin penting. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “apa yang terjadi?”, “Siapa sajakah yang dapat memberikan bantuan?”, “Dimana dan bagaimana cara mengakses bantuan?”, “Apakah peristiwa tersebut masih berlangsung?” sangat penting untuk dicari tahu jawabannya.

Kamu dapat mencarinya melalui berbagai sumber yang valid dari internet, media sosial, atau bahkan pengalaman orang lain. Tindakan ini perlu kamu lakukan agar tidak salah dalam memberikan pertolongan.

Melakukan 3 prinsip FPA: Look (Lihat), Listen (Dengar), Link (Hubungkan)

Look: Lihat

Amatilah apa yang mereka butuhkan untuk membuat mereka merasa lebih tenang. Mungkin seperti air putih, tisu, atau tempat yang lebih nyaman untuk bercerita. Cari tahu segala hal tentang kebutuhan mereka, apa yang mereka butuhkan dan perlukan.

Listen: Dengar

Poin ini merupakan hal terpenting dalam memberikan PFA. Dalam melaksanakannya pastikan bahwa kamu mendengarkan mereka dengan empati.

Cobalah untuk mendekati mereka perlahan lalu tanyakan apa yang mereka butuhkan dan dapat kita lakukan untuk mereka. Dengarkanlah cerita mereka tanpa penghakiman. Berikanlah mereka ruang untuk merasa aman dalam bercerita. Jika memungkinkan pastikan bahwa kamu dapat menjaga kerahasiaan ceritanya. Jangan paksakan mereka untuk bercerita. Hal inilah yang disebut WHO (2011) sebagai cara membantu dengan tanggung jawab.

Berikan juga rasa nyaman dan menenangkan bagi mereka selama bercerita. Kamu dapat melakukannya dengan menunjukkan bahasa tubuhmu seperti tepukan ringan, anggukan kepala, atau kata-kata yang membuat mereka merasa lebih baik.

Link: Hubungkan

Jangan lupa bahwa apa yang kamu lakukan merupakan pertolongan pertama bagi mereka. Maka, jika kamu bukan ahlinya, kamu tidak berhak untuk memberikan mereka diagnosis tertentu.

Bantulah mereka untuk terhubung dengan tenaga profesional yang dapat mengatasi permasalahannya. Berikan informasi yang sudah anda pelajari sebelumnya.

Kamu juga dapat menanyakan apakah ada orang lain yang mereka percaya untuk memberi dukungan. Ingatlah untuk tidak memposisikan dirimu sebagai pengambil keputusan. Berikan mereka kesempatan untuk mengambil keputusannya sendiri. Namun yakinkan mereka, bahwa kamu bersedia untuk membantunya.

Perlu diingat bahwa, PFA bukanlah (WHO, 2020):

  1. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga ahli
  2. Konseling profesional
  3. PFA bukanlah “psychological debriefing”. Jadi, di dalam PFA tidak akan didiskusikan secara mendetail tentang kejadian krisis yang menimpa seseorang.
  4. PFA tidak meminta seseorang untuk menganalisis apa yang terjadi pada mereka dan tidak akan menjelaskan kejadian sesuai dengan urutan waktu dan kejadian.
  5. Relawan PFA tidak boleh memaksa untuk seseorang yang mengalami krisis menceritakan pengalamannya.

Itulah beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk memberikan PFA bagi mereka yang membutuhkan.

Asisya Consulting memberikan pelayanan bagi kalian yang ingin melakukan konsultasi dengan psikolog terpercaya kami.

 

Sumber:

WHO. (2020). Pertolongan Psikologis Pertama: Panduan bagi Relawan Bencana. Surabaya: Airlangga University Press. diakses dari: https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/44615/9789241548205-ind.pdf

]]>
https://asisyaconsulting.com/setiap-orang-dapat-memberikan-psychological-first-aid-tapi-gimana-caranya/feed/ 0
Hati-hati! Inilah Dampak Perselingkuhan Terhadap Kesehatan Mental https://asisyaconsulting.com/hati-hati-inilah-dampak-perselingkuhan-terhadap-kesehatan-mental/ https://asisyaconsulting.com/hati-hati-inilah-dampak-perselingkuhan-terhadap-kesehatan-mental/#respond Mon, 09 Aug 2021 08:06:13 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=514 Sumber: freepik.com

Dalam menjalin hubungan, tentunya kepercayaan dan kesetiaan merupakan landasan atau pondasi yang harus dibangun. Maka tak heran jika salah seorang yang merusaknya akan berdampak pula pada hancurnya hubungan mereka.

Salah satu penyebab hancurnya hubungan yang disebabkan oleh ketidaksetiaan ialah perselingkuhan baik disengaja maupun tidak. Dalam sebuah studi, perselingkuhan didefinisikan sebagai “pelanggaran kepercayaan, pengkhianatan sebuah hubungan, dan pemutusan sebuah kesepakatan,” (Pittman, 1989; Syamsuri & Yitnamurti, 2020).

Berbagai faktor disebutkan dapat menjadi penyebab perselingkuhan seperti ketidakpuasan emosional dan seksual, masalah dalam hubungan, atau bahkan memiliki pasangan idaman lain. 

Namun, alasan-alasan tersebut tidak dapat membenarkan perilaku mereka. Sebab ada banyak dampak negatif yang disebabkan oleh perselingkuhan, salah satunya dalam masalah kesehatan mental. Berikut ini telah kami rangkum beberapa dampak perselingkuhan pada kesehatan mental, apa saja itu?

Memiliki Rasa Harga Diri yang Rendah

Mereka yang pernah diselingkuhi cenderung akan merasa rendah diri hingga menyebabkan kepercayaan diri yang rendah. Mereka mulai bertanya-tanya apa yang salah dalam dirinya hingga pasangannya mencari pasangan lain.

Dengan begitu, mereka pun cenderung akan menyalahkan diri sendiri. Perselingkuhan yang dilakukan pasangannya akan dianggap terjadi karena kesalahannya. 

Memiliki Trust Issue

Korban perselingkuhan nantinya mungkin akan mendapat trust issue atau yang dapat diartikan sebagai masalah kepercayaan terhadap orang lain. Mereka akan kesulitan untuk memulai hubungan yang baru sebab merasa tidak dapat mempercayai siapapun.

Anxiety atau Kecemasan Berlebihan

Jikalau pun memulai hubungan yang baru, sebab trust issue sebelumnya, mereka cenderung cemas terhadap apapun yang dilakukan pasangannya. Kecemasan tersebut nantinya akan berbuah sikap posesif, seperti ingin tahu apa yang ia lakukan.

Mereka jadi mudah curiga jika terdapat sedikit perubahan sikap dari pasangannya.

Meningkatnya Stress dan Depresi

Kehilangan orang yang kita sayangi dapat memunculkan tekanan yang membawa stress. Apalagi penyebabnya adalah pengkhianatan orang yang kita percaya.

Munculnya stress akibat perselingkuhan ini pun dapat menurunkan kinerja dalam pekerjaan sehari-hari. Mereka cenderung untuk merasa tidak bertenaga untuk melakukan apapun. Jika hal ini terus terjadi ditambah pikiran-pikiran buruk terhadap dirinya bukan tidak mungkin jika depresi akan ikut menyerang.

Posttraumatic stress disorder (PTSD)

Salah satu masalah kesehatan mental yang ikut menganggu ialah Posttraumatic Stress Disorder (PTSD). PTSD sendiri dapat diartikan sebagai reaksi akibat peristiwa yang membuatnya trauma.

Bukan tidak mungkin jika perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangannya membuatnya sangat kaget. Mereka sangat mempercayai pasangannya namun tiba-tiba dikhianati begitu saja dan menghancurkan keyakinannya.

Bagi sebagian orang, perselingkuhan merupakan peristiwa besar yang dapat menyebabkan trauma hingga mungkin mengganggu aktivitas sehari-harinya.

Sahabat Asisya, begitu banyak dampak negatif pada kesehatan mental akibat perselingkuhan. Apapun alasannya, perselingkungan tidak dapat dibenarkan. Jika memang mereka merasa ada yang salah dari pasangannya, maka lebih baik untuk dibicarakan satu sama lain.

Bukankah hubungan itu terdiri dari dua orang? Maka setiap masalah dan penyelesaiannya pun harus dilakukan keduanya, bukan mencari alternatif yang akan saling menyakiti.

Jika kamu memiliki pengalaman seperti diatas dan kesulitan untuk menghadapinya, Asisya Consulting menyediakan jasa layanan konseling dengan konselor dan psikolog terbaik.

Sumber: Syamsuri, M. V., & Yitnamurti, S. 2020. Perselingkuhan Dalam Sudut Pandang Psikiatri. Universitas Airlangga.

]]>
https://asisyaconsulting.com/hati-hati-inilah-dampak-perselingkuhan-terhadap-kesehatan-mental/feed/ 0
Sering Merasa Serba Salah Terhadap Pasanganmu? Pahami Love Language Untuk Mengatasinya https://asisyaconsulting.com/sering-merasa-serba-salah-terhadap-pasanganmu-pahami-love-language-untuk-mengatasinya/ https://asisyaconsulting.com/sering-merasa-serba-salah-terhadap-pasanganmu-pahami-love-language-untuk-mengatasinya/#respond Thu, 29 Jul 2021 04:11:39 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=504 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

Dalam konteks hubungan, saling memahami satu sama lain merupakan aspek terpenting dalam menjaga keharmonisan. Mungkin sebagian orang merasa bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik, tapi ternyata apa yang dilakukan masih dirasa tidak cukup oleh pasangannya. Hingga kamu merasa serba salah dan tak jarang terjadi perselisihan dalam hubunganmu.

Namun, bukan berarti yang kamu lakukan salah. Bisa jadi, hal ini disebabkan adanya perbedaan love language antara kamu dengan pasanganmu.

Tapi, apa sih itu love language?

Love language atau yang diartikan sebagai bahasa cinta merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman, seorang penulis dan konselor pernikahan. Dalam bukunya berjudul The Five Love Language: The Secret to Love that Lasts, bahasa cinta adalah cara seseorang untuk mengekspresikan kasih sayang terhadap pasangannya. Namun, bukan hanya cara kita memberi tapi juga tentang cara kita menerima kasih sayang tersebut.

Setiap orang memiliki caranya tersendiri dalam menunjukkan bahasa cintanya, namun penting pula bagi mereka untuk memahami bahasa cinta dari pasangannya. Sebab dengan begitu kamu dapat lebih memahami dan peka terhadap keinginan mereka.

Bentuk-bentuk love language  

Lebih lanjut lagi dalam bukunya, Dr. Chapman mengungkapkan lima bentuk love language antara lain:

Words of affirmation (kata-kata afirmasi)

Bentuk bahasa cinta ini menunjukkan kasih sayangnya melalui kata-kata pujian, motivasi, apresiasi, atau kata lain yang dapat memberikan semangat dan menyenangkan hati. Mereka yang memiliki bahasa cinta ini senang jika mendengar pujian dari pasangannya dan mudah tersakiti jika mendengar kata-kata yang merendahkan.

Quality time (waktu yang berkualitas)

Love language yang ditunjukkan dari bentuk ini ialah sangat senang untuk menikmati waktu bersama orang yang disayangi. Ketika mereka bersama, mereka dengan bahasa cinta ini akan memberikan perhatian yang penuh pada pasangannya. Hal ini ditunjukkan seperti tidak bermain ponsel ketika mereka saling berbicara, sering melakukan kegiatan bersama, dsb.

Receiving gifts (memberi hadiah)

Bagi sebagian orang, hadiah merupakan cara untuk menunjukkan kasih sayangnya. Tidak selalu dengan hadiah yang besar atau mewah, orang dengan bahasa cinta ini sering memberikan hadiah-hadiah kecil untuk pasangannya. Begitu pun sebaliknya mereka akan sangat senang mendapatkan hadiah dari pasangannya. Sebab dengan begitu ia merasa diperhatikan.

Acts of service (tindakan melayani)

Memberikan kasih sayang juga dapat ditunjukkan melalui tindakan-tindakan kecil yang dapat membantu pasangan mengurangi bebannya. Orang dengan bahasa cinta ini cenderung menunjukkan aksinya daripada hanya bicara. Mereka pun merasa senang jika pasangannya melakukan hal tersebut sebab merasa pasangannya lebih peka untuk melakukan sesuatu tanpa diminta.

Physical Touch (sentuhan fisik)

Orang dengan bahasa cinta ini merasa senang mendapat sentuhan fisik dari pasangannya, seperti genggaman tangan, dirangkul, atau dipeluk. Mereka menilai bahwa sentuhan fisik merupakan bentuk perhatian yang dapat membuat mereka lebih tenang.

Kenapa love language penting untuk dipahami?

Layaknya ketika berbicara dengan orang lain, penting bagi kita untuk memahami bahasa yang digunakan agar terjalin komunikasi yang baik. Hal ini tidak berbeda jauh dengan bahasa cinta dalam suatu hubungan.

Memahami bahasa cinta menjadi cara untuk kamu lebih memahami dan menghargai satu sama lain. Dengan begitu kamu dapat menyampaikan rasa kasih sayang yang tepat seperti yang diinginkan pasanganmu. Maka tidak akan lagi ada perasaan serba salah dalam hubunganmu.

Dengan saling memahami tentunya membantu kamu dan pasangan untuk menjaga keharmonisan hubungan. Sebab kalian terus belajar untuk memahami satu sama lain sehingga dapat membangun hubungan yang lebih dalam dan berarti.

Perbedaan bahasa cinta yang digunakan juga dapat membuatmu untuk membangun empati terhadap pasanganmu. Dengan mengetahui bahasa cintanya, kamu akan belajar tentang apa yang membuat hal tersebut menjadi begitu berarti untuk dia. Selain itu, memahami cara pandang seseorang dapat membuatmu mendapat insight baru dan menjadikanmu lebih dewasa.

Love language ini tidak selalu tentang hubungan kekasih, namun bisa juga digunakan dalam hubungan pertemanan atau keluarga. Membangun sebuah hubungan dimana melibatkan dua orang atau lebih tentu tidaklah mudah. Semua bergantung dengan begaimana caramu untuk berusaha saling memahami satu sama lain.

Sumber:

https://www.northbrooklynmft.com/the-importance-of-learning-your-partners-love-language/

Sherri Gordon, 2020. What Are the Five Love Languages? Diakses dari Verywellmind.com, https://www.verywellmind.com/can-the-five-love-languages-help-your-relationship-4783538

]]>
https://asisyaconsulting.com/sering-merasa-serba-salah-terhadap-pasanganmu-pahami-love-language-untuk-mengatasinya/feed/ 0
Umur 20-an dan Segala Problematikanya https://asisyaconsulting.com/umur-20-an-dan-segala-problematikanya/ https://asisyaconsulting.com/umur-20-an-dan-segala-problematikanya/#respond Tue, 27 Jul 2021 02:20:39 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=501 Sumber: freepik.com

“Kok belum lulus? Kerja dimana? Kapan nikah?”

Memasuki umur 20-an, pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin sudah sering kita dengar sampai rasanya malas untuk menanggapi. Usia dimana dalam perkembangan psikologisnya merupakan masa transisi dari remaja menuju dewasa awal.

Dalam Hurlock (1996; Putri, 2019), usia dewasa awal menjadi masa penyesuain diri terhadap pola-pola kehidupan dan harapan sosial seperti peran, sikap, nilai, dan tugas baru. Kehidupan para dewasa awal biasanya diwarnai oleh eksperimen dan eksplorasi terhadap dunia dan impiannya.

Transisi terhadap tahap kehidupan baru tentunya menuntut diri untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi. Maka tak dapat dipungkiri jika usia ini yang paling sering memiliki masalah psikologis. Seseorang yang gagal menyesuaikan diri mungkin akan diliputi oleh rasa gelisah dan cemas. Akibat alasan inilah Hurlock (1996; Putri, 2019) kemudian menyebut masa dewasa awal menjadi masa penuh dengan ketegangan emosional.

Kekhawatiran atau ketakutan yang timbul umumnya disebabkan kebingungan akan tujuan hidupnya. Para dewasa awal ini memulai untuk memilih tujuan yang akan menentukan hidupnya. Banyaknya pilihan yang tersedia justru dapat membingungkan dan membuat mereka takut jika salah memilih. Mereka yang sebelumnya berada di usia senang bermain mulai dihadapkan pada kenyataan untuk melakukan peran dan tugasnya.

Usia dewasa awal sendiri memiliki tugas perkembangan antara lain “mendapatkan pekerjaan, memilih teman hidup, bergabung dalam suatu kelompok sosial, mengelola rumah tangga, dan menerima tanggung jawab sebagai warga negara,” (Hurlock, 1996; Putri, 2019).

Belum lagi ditambah rasa insecure dan inferioritas melihat teman sejawat memiliki banyak prestasi, sudah lulus, mulai bekerja di suatu perusahaan, atau bahkan menikah. Sementara rasanya kita masih terdiam disini sebagai penonton keberhasilan mereka.

Kekhawatiran, rasa insecure, dan inferioritas pun kerap dibumbui oleh ekspektasi atau harapan keluarga sendiri seperti ingin kita lulus cumlaude, langsung mendapat pekerjaan di perusahaan ternama, atau menikah sebelum umur 30 tahun. Nilai-nilai hidup yang berbeda dengan orang tua juga sering menjadi pemicu stress bagi mereka.

Dinamika kehidupan yang mulai dihadapkan pada dewasa awal yang masih belum siap mental mengemban tanggung jawab dan harapan ini tak jarang membuat mereka depresi. Salah satu masalah psikologis yang sering dialami adalah quarter life crisis.

Oleh karena itu, meyakini kemampuan diri sendiri menjadi motivasi terbesar seseorang dapat melalui ini. Salah satu ungkapan yang terus saya ingat dan membantu saya mengatasi ini adalah:

“Orang sukses terlahir dari mereka yang meyakini bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu”

Kita harus menjadi tameng dan pegangan bagi diri sendiri dikala orang lain atau bahkan orang tua meremehkan kemampuan yang kita miliki.

Mencoba berbagai hal baru untuk mengeksplor dunia dan mengasah keterampilan juga penting dilakukan. Kamu bisa melakukannya dengan mulai meninggalkan kebiasaan yang membuatmu malas, seperti bermain ponsel seharian tanpa melakukan sesuatu yang berarti. 

Banyak sekali program yang dapat membantu mengisi waktu luang dengan bermanfaat seperti mengikuti webinar, workshop, kegiatan organisasi, relawan, magang, ataupun bekerja paruh waktu. Anggap saja semua itu investasi untuk masa depanmu yang bisa saja berguna nantinya. Orang yang mencoba semua hal dan melakukannya sebaik mungkin tidak akan menyesali keputusannya meskipun ia gagal.

Terakhir dan terpenting ialah berhenti untuk membandingkan dirimu sendiri dengan orang lain. Sebab setiap orang terlahir dalam keadaan yang berbeda, mereka memiliki kemampuan dan mungkin privilege-nya masing-masing. 

Bisa jadi kamu unggul di satu bidang dan mereka di bidang yang lain. Jalan yang kamu ambil pun bisa saja berbeda dengan jalan yang mereka lalui. Selagi kamu mau berusaha dan terus mencoba melakukan yang terbaik, maka sesuatu yang baik pun akan menghampirimu.

Percayalah, bahwa setiap bunga memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh, begitupun kamu.

 

Sumber:

Putri, A. F., 2019. Pentingnya Orang Dewasa Awal Menyelesaikan Tugas Perkembangannya. SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling, Vol. 3(2), hal. 35-40. https://jurnal.iicet.org/index.php/schoulid/article/download/430/pdf 

]]>
https://asisyaconsulting.com/umur-20-an-dan-segala-problematikanya/feed/ 0
Bahagia Dengan Ikigai https://asisyaconsulting.com/bahagia-dengan-ikigai/ https://asisyaconsulting.com/bahagia-dengan-ikigai/#respond Thu, 15 Jul 2021 13:14:38 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=488 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

Katanya kita harus mengikuti passion agar merasa lebih bahagia. Katanya dengan passion dapat membuat kita merasa lebih bersemangat dalam melakukan rutinitas sehari-hari.

Tapi apa benar kalau passion saja cukup untuk membuat hidup lebih bahagia?

Ternyata ada loh satu prinsip hidup dari Jepang yang dapat membantumu menemukan konsep bahagia dalam hidup. Prinsip itu disebut Ikigai.

Apa itu Ikigai?

Ikigai merupakan sebuah istilah berasal dari jepang dengan menggabungkan kata iki yang berarti kehidupan atau hidup dan gai yang berarti manfaat atau nilai. Jika digabungkan kedua kata tersebut maka Ikigai memberikan manfaat, nilai, serta tujuan hidup. Maka dapat dikatakan juga jika Ikigai memberikanmu alasan untuk hidup.

Istilah ini pun dapat menjadi kunci untuk membantu menemukan tujuan dan atau makna kehidupan mu. Dengan begitu, Ikigai menjadi sebuah prinsip atau cara untuk memotivasi kamu bangun di pagi hari dan menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.

Selain itu, Ikigai juga memberikan dampak yang penting dalam kesehatan dan umur panjang. Dalam buku yang ditulis oleh Dan Buttner (2015) dalam The Blue Zones Solution, menyebutkan bahwa Okinawa menjadi kota nomor satu dari 5 daerah terbaik dengan penduduk berumur panjang dan memiliki sedikit penyakit. Hal ini selain disebabkan oleh menjaga makanan ialah sebab filosofi hidup mereka yaitu IKIGAI (Garcia & Miralles, 2017).

Bagaimana Cara Menemukannya?

Sebelum membahas lebih lanjut, kalian perlu tau nih Ikigai itu sendiri terdiri dari 4 aspek yaitu passion, mission, profession, dan vocation. Aspek ini digambarkan dalam diagram berikut:

Sumber: www.djkn.kemenkeu.go.id

Passion

Untuk sebagian orang, menemukan passion merupakan tantangan terbesar sebab banyak yang masih tidak mengetahuinya. Passion sendiri dalam hal ini merupakan gabungan dari irisan sesuatu yang disenangi dan dikuasai. Sesuatu yang dengan melakukannya membuatmu merasa senang.

Mission

Aspek ini merupakan gabungan dari irisan sesuatu yang kamu senangi dan apa yang dibutuhkan oleh lingkungan sekitar. Dalam hal ini bisa jadi kamu tidak melakukannya dengan baik sebab bukan hal yang kamu kuasai dan tidak dibayar. Namun, aspek ini dihargai oleh orang lain. Misalnya menjadi relawan.

Profession

Seperti artinya dalam bahasa Indonesia, profession dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan profesimu. Aspek ini merupakan gabungan dari apa yang kamu kuasai dan kamu dibayar atas itu.

Vocation

Dalam hidup tentunya penghasilan menjadi salah satu hal yang penting untuk dimiliki. Selain itu juga berguna untuk menyeimbangkan kegiatan yang kita senangi agar tetap dapat dilakukan. Maka aspek vacation merupakan gabungan dari peluang mendapatkan penghasilan dari sesuatu yang dibutuhkan masyarakat. Seperti pekerjaan pada umumnya hal ini mungkin tidak melibatkan sesuatu yang kamu senangi sehingga mengurangi kesenangan untuk melakukannya.

Untuk dapat mencapai keempatnya, maka kamu harus mengetahui terlebih dahulu tentang kegiatan apa yang kamu sukai, apa yang kamu kuasai, apa hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan apakah itu sesuatu yang membuat kamu dibayar?

Jika kamu sudah mendapatkannya maka cobalah untuk menentukan tujuan. Setelahnya, maka kamu dapat menentukan langkah-langkah untuk mencapai tujuan tersebut.

Tidak perlu dimulai dari langkah yang besar, cobalah dari sesuatu langkah kecil yang kamu yakini bahwa kamu dapat berhasil melakukannya. Dengan begitu, maka dapat meningkatkan kepercayaan dirimu atas apa yang kamu lakukan.

Menambah membaca atau diskusi dengan orang lain sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang lingkungan sekitar.

Hargai hal-hal kecil yang dapat membawa kebahagiaan. Setiap orang memiliki pandangannya masing-masing akan arti bahagia. Namun tidak ada salahnya jika mulai untuk menghargai keadaan yang kamu alami. Orang jepang sendiri percaya bahwa kebahagiaan kecil dapat membawa pada kehidupan yang lebih menyenangkan.

Itulah seputar informasi mengenai Ikigai. Ternyata bukan hanya passion sebagai aspek penting dalam hidup. Namun harus dibarengi dengan ketiga aspek yang tidak kalah penting. Aspek-aspek tersebut terbentuk melalui beberapa irisan yang berarti harus saling melengkapi bukan berdiri sendiri. Dengan menyatukannya, maka kamu berhasil dalam menemukan Ikigaimu dan membuat hidup lebih bahagia.

Jika kamu memiliki permasalahan dalam menentukan tujuan hidupmu, kamu dapat mengkonsultasikannya dengan psikolog dan konselor ahli dari Asisya Consulting.

Sumber:

Garcίa, H., & Miralles, F. 2017. IKIGAI: The Japanese Secret to a Long and Happy Life. New York: Penguin Books. https://img1.wsimg.com/blobby/go/528fd387-72f1-4bf6-b4be-2f0e210ec8fc/Ikigai%20_%20the%20Japanese%20secret%20to%20a%20long%20and%20hap.pdf  

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-suluttenggomalut/baca-artikel/13385/Ikigai-Filosofi-Hidup-Orang-Jepang-yang-Perlu-Ditiru.html

]]>
https://asisyaconsulting.com/bahagia-dengan-ikigai/feed/ 0
Meningkatnya Gangguan Kesehatan Mental Saat Pandemi https://asisyaconsulting.com/meningkatnya-gangguan-kesehatan-mental-saat-pandemi/ https://asisyaconsulting.com/meningkatnya-gangguan-kesehatan-mental-saat-pandemi/#respond Mon, 12 Jul 2021 14:38:57 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=478 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

COVID-19 merupakan pandemic atau wabah penyakit yang secara tiba-tiba menjangkit seluruh dunia sejak 2019 lalu. Segala perubahan dan kebijakan ditetapkan dalam upaya menghentikan laju penyebaran wabah ini.

Berbagai dampak terjadi diakibatkan pandemic ini salah satunya adalah gangguan kesehatan mental. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mencatat pada 5 bulan pandemic yaitu sejak April – Agustus 2021, sebanyak 64,8 persen dari 4010 pengguna swaperiksa di web PDSKJI mengalami masalah psikologis.

Swaperiksa itu sendiri merupakan layanan dari PDSKJI berupa pemeriksaan kesehatan mental yang dapat dilakukan oleh penggunanya sendiri. Kemudian jika hasilnya terdapat gejala gangguan psikologis dapat menghubungi tenaga psikolog yang disediakan oleh PDSKJI.

Dari hasil swaperiksa tersebut masalah psikologis yang dialami antara lain 65 persen kecemasan, 62 persen depresi, 75 persen trauma psikologis, dan 1 dari 5 orang (44 persen dari penderita depresi) memiliki pemikiran untuk bunuh diri. PDSKJI pun mencatat bahwa gangguan kesehatan mental ini paling banyak menyerang perempuan yaitu 71 persen sementara laki-laki 29 persen. Gangguan ini pun ditemukan pada kelompok usia paling rentan mengalami masalah psikologis antara lain 17 – 29 tahun dan diatas 60 tahun.

Gangguan kecemasan dalam DSM-IV-TR ditandai oleh kekhawatiran terus menerus yang sulit dikendalikan hingga mengalami kelelahan mental, mudah marah, gangguan tidur dan otot. 

Hal ini serupa dengan hasil yang dipaparkan oleh PDSKJI. Dalam surveynya mereka menyatakan bahwa gejala yang dialami responden berupa pemikiran sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir berlebihan, mudah marah atau jengkel, dan sulit rileks.

Sementara gejala depresi ditandai perasaan sedih dan tertekan hingga kehilangan minat atau kesenangan pada suatu aktivitas, sulit tidur, kehilangan energi, nafsu makan berkurang, memandang diri secara negatif, dan memiliki pemikiran tentang bunuh diri.

Tanda-tanda tersebut sama dengan gejala depresi yang ditemukan oleh PDSKJI pada pengguna swaperiksa berupa gangguan tidur, kurang percaya diri, lebih tidak bertenaga, dan kehilangan minat terhadap sesuatu. Hal ini mereka rasakan lebih dari separuh waktu dalam 2 minggu terakhir.

Pemberitaan banyaknya korban meninggal akibat COVID-19 atau peristiwa-peristiwa lainnya bahkan mengalami sendiri kerugian akibat pandemi ini menyebabkan gejala stress pasca trauma (PTSD) pada sebagian orang. 

Dalam survey yang dilakukan PDSKJI, ditemukan sebanyak 80 persen dari 182 pengguna swaperiksa memiliki gejala PTSD karena menyaksikan atau mengalami peristiwa terkait COVID-19.

Gejala yang dialami diantaranya 46 persen gejala berat, 33 persen gejala sedang, dan 2 persen gejala ringan serta 19 persen tidak memiliki gejala. Sementara untuk gejala yang paling menonjol adalah merasa berjarak dan terpisah dari orang lain, mati rasa, merasa terus waspada, mudah marah, sulit tidur, dan kesulitan berkonsentrasi. 

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun meninggalkan banyak kejadian tidak menyenangkan penyebab gangguan psikologis pada banyak orang. Gangguan yang tidak segera ditangani atau bahkan hanya dibiarkan dapat menyebabkan masalah yang lebih besar.

Jika kamu merasakan gejala gangguan psikologis yang mulai mengganggu aktivitasmu, segeralah mencari pertolongan konselor atau psikolog. Asisya Consulting menyediakan layanan konseling dan terapi psikologis bagi kamu yang ingin mencari pendampingan psikologis.

Sumber:

http://pdskji.org/home

Davison, dkk. 2018. Psikologi Abnormal. Depok: Rajawali Pers.

]]>
https://asisyaconsulting.com/meningkatnya-gangguan-kesehatan-mental-saat-pandemi/feed/ 0
Tips Meredakan Kecemasan saat PPKM Darurat https://asisyaconsulting.com/tips-meredakan-kecemasan-saat-ppkm-darurat/ https://asisyaconsulting.com/tips-meredakan-kecemasan-saat-ppkm-darurat/#respond Thu, 08 Jul 2021 16:07:19 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=475 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

Sahabat Asisya, kasus Covid-19 di Indonesia ternyata masih belum terkendali. Kegiatan masyarakat yang semula mulai normal dengan dicabutnya status pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ternyata kembali dihentikan.

Dilansir dari tirto.com, Presiden Indonesia, Joko Widodo menetapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat mulai 3 hingga 20 juli 2021. Kebijakan ini diambil pemerintah sebagai upaya untuk mengurangi rantai penyebaran Covid-19 yang terus meningkat.

Dengan kebijakan tersebut, kita kembali melakukan pekerjaan dari rumah (WFH) dan membatasi bepergian serta bertemu sanak saudara. Keadaan yang memungkinakn menjadi penyebab stress dan kecemasan terutama ketika di rumah saja.

Tentunya, dalam menghadapi Covid-19 bukan hanya kesehatan fisik yang perlu diperhatikan tapi juga kesehatan mental kita. Nah berikut ini beberapa cara yang dapat membantumu untuk tetap tenang saat PPKM Darurat. Apa aja sih? Simak infonya yuk!

Meditasi pernapasan

Cara ini memang terlihat mudah, namun meditasi pernapasan memiliki beberapa manfaat. Ketika oksigen memasuki aliran darah ke otak manusia, hal tersebut akan membantu seseorang untuk berpikir lebih rasional.

Meditasi pernafasan pun sering digunakan latihan mindfulness yang dapat membantu meredakan stress, kecemasan, meningkatkan kesadaran, dan sistem imun tubuh. Meditasi ini dapat kamu lakukan dengan menarik nafas panjang lalu menahannya sekitar tiga detik dan hembuskan perlahan. Kamu dapat mengulanginya sekitar 5-7 kali.

Melakukan hobi atau hal-hal baru

Saat dirumah saja, seseorang cenderung mudah bosan dan stress. Maka cobalah untuk melakukan kegiatan yang disukai atau diyaaykini mampu membuat pikiran lebih tenang. Dengan begitu kamu dapat mengisi waktu kosongmu dan mengalihkan kecemasan serta menurunkan tingkat stress.

Atur pola tidur yang baik

Kesehatan saat pandemic baik fisik maupun mental menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. Sebab jika kita sakit akan semakin banyak pikiran-pikiran negatif yang akan mempengaruhi kita. Mengatur dan menjaga pola tidur yang baik dapat membantu untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental seseorang.

Hindari membaca berita dari sumber tidak kredibel

Sejak awal pandemic masuk di Indonesia sudah marak kabar atau pun berita yang tersebar tanpa adanya sumber terpercaya. Kabar atau berita yang banyak disebarkan melalui platform sosial media terkadang banyak memprovokasi kecemasan. Cobalah untuk tidak langsung mempercayai berita tanpa sumber yang jelas dan terpercaya. Kamu dapat melakukannya dengan mencari kabar dari organisasi atau instansi yang memang bertugas dalam pemberantasan Covid-19.

Mencari pendampingan psikologis

Poin kelima ini merupakan yang terpenting dalam menjaga kesehatan mental. Bukan hanya dengan psikolog atau konselor ahli, tapi kamu pun dapat melakukannya dengan mencari dari orang-orang disekitarmu. Dengan mendapatkan dukungan psikologis dari orang yang membuatmu nyaman dapat membantumu merasa lebih tenang.

Bertemu dengan konselor atau psikolog pun tidak perlu menunggu ketika situasi semakin parah. Kamu dapat mengatur janji temu dengan mereka untuk bercerita hal yang kamu rasakan.

Psikolog nantinya akan mengarahkanmu pada hal-hal yang membuatmu cemas atau stress. Kemudian membantumu untuk mengatasi hal tersebut.

Itulah beberapa tips dari kami yang dapat kamu coba lakukan saat PPKM darurat bagi kamu yang merasa cemas. Kamu pun mungkin mempunyai cara tersendiri dalam menghadapinya. Namun apapun itu, tetap jaga kesehatan dengan menerapkan protokolprotok kesehatan 5M dan menjaga kesehatan mental mu agar tetap sehat dalam menghadapi pandemi yang tidak diketahui kapan akan berakhir.

Asisya Consulting memberikan layanan konseling dengan para psikolog ahli bagi kamu yang ingin mencari pendampingan psikologis.

 

Sumber:

https://tirto.id/jokowi-resmi-umumkan-ppkm-darurat-jawa-bali-pada-3-20-juli-2021-ghnd

]]>
https://asisyaconsulting.com/tips-meredakan-kecemasan-saat-ppkm-darurat/feed/ 0
Merasa Semua Orang Memperhatikanmu? Tunggu Dulu, Mungkin Itu Spotlight Effect! https://asisyaconsulting.com/merasa-semua-orang-memperhatikanmu-tunggu-dulu-mungkin-itu-spotlight-effect/ https://asisyaconsulting.com/merasa-semua-orang-memperhatikanmu-tunggu-dulu-mungkin-itu-spotlight-effect/#respond Thu, 01 Jul 2021 06:42:16 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=469 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

Sahabat Asisya, pernah gak sih kalian merasa seakan semua orang memperhatikanmu ketika berada di keramaian? Padahal kenyataannya tidak begitu.

Salah satu contohnya, saat kamu pergi ke suatu acara dan tidak percaya diri dengan pakaianmu karena merasa kurang cocok. Lalu kamu merasa bahwa semua orang akan memperhatikan bahkan membicarakanmu.

Situasi tersebut mungkin sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari dimana kamu merasa bahwa semua mata tertuju pada dirimu. Nah, dalam perspektif psikologi fenomena ini disebut spotlight effect. Apa itu? Simak informasinya ya!

Apa itu spotlight effect?

Dilansir dari psychologytoday.com, spotlight effect merupakan kecenderungan untuk berpikir bahwa orang lain memperhatikanmu lebih dari yang sebenarnya. Bisa dibilang istilah ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung berpikir bahwa dirinya menjadi pusat perhatian padahal kenyataannya tidak demikian.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gilovich, dkk (200) mereka membuktikan bahwa orang-orang cenderung melebih-lebihkan sejauh mana tindakan dan penampilan mereka diperhatikan oleh orang lain.

Para peneliti American Psychological Association (APA) tersebut melakukan t-shirt eksperimen dengan membagi dua kelompok untuk menggunakan baju yang dianggap memalukan dan lebih keren sebelum memasuki ruang kelas. Kelompok pertama menggunakan baju yang menggambarkan Barry Manilow sementara kelompok kedua menggunakan baju bergambar Bob Marley, Jerry Seinfeld, dan Martin Luther King, Jr.

Kemudian peserta diminta untuk memprediksi berapa banyak orang yang akan memperhatikannya. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak lebih dari setengah persen dari yang mereka kira akan memperhatikan mereka.

Penelitian ini pun juga menunjukkan orang-orang cenderung percaya bahwa tindakan positif maupun negatif mereka lebih menonjol daripada orang lain. Para peneliti meminta partisipan untuk memperkirakan peringkat positif dan negative mereka yang diberikan oleh anggota kelompok. Peringkat positif untuk yang dapat menjalankan diskusi dengan baik dan peringkat negative untuk anggota yang sering salah bicara. Hasilnya menunjukkan jika peserta melebih-lebihkan seberapa menonjol diri mereka.

Kenapa spotlight effect bisa terjadi?

Seorang dosen psikologi di University of Lincoln, Nathan Heflick, Ph.D menjelaskan bahwa spotlight effect terjadi sebab egosentrisme pada diri kita. Egosentrisme itu sendiri merupakan kecenderungan memandang dunia dari perspektif pribadi karena mereka adalah pusat dari dunianya. Pengalaman diri kita digunakan untuk mengevaluasi dunia termasuk orang lain. Dengan begitu kita mengasumsikan bahwa orang lain pun memiliki pandangan seperti yang kita pikirkan. Kita terkadang lupa bahwa orang lain pun menjadi pusat dari dunianya sendiri.

Menurut Heflick naïve realism dan bias blind spot pun mempengaruhi terjadinya spotlight effect. naïve realism ialah kecenderungan seseorang untuk percaya apa yang mereka lihat sebagai realitas sebenarnya. Sementara bias blind spot merupakan kecenderungan untuk mengenali dampak bias pada penilaian orang lain tapi tidak dengan bias penilaiannya sendiri. Dengan begitu ia merasa bahwa apa yang ia fokuskan adalah benar, sehingga mereka percaya bahwa orang lain akan memperhatikan pada apa yang mereka fokuskan.

Lalu bagaimana cara untuk mengatasinya?

Sebab utama terjadinya fenomena ini karena egosentrisme seseorang yang membuat kita memandang dunia bahkan orang lain melalui pengalaman dan perspektif kita. Maka cobalah untuk menyadari dan meyakini bahwa setiap orang memiliki egosentrisme nya masing-masing. Mereka adalah pusat dari dunia mereka sendiri dan tidak ada yang benar-benar memperhatikanmu.

Selain itu cobalah untuk meminta pendapat dari rekan, sahabat, atau orang terdekatmu terhadap apa yang kamu fokuskan atau khawatirkan. Dengan begitu kamu memperoleh pandangan orang lain sebagai bahan pertimbanganmu.

Spotlight effect juga berkaitan dengan kecemasan sosial. Hal ini dapat membuat mu menjadi kurang percaya diri, mudah gugup, dan mudah khawatir terhadap pandangan orang lain. Sebab merasa dirinya selalu diperhatikan mereka jadi selalu berhati-hati pada tindakannya. Jika hal ini terus berlanjut maka akan memungkinkan jika kamu mengalami gangguan kecemasan sosial.

Maka saran terakhir, cobalah untuk konsultasikan hal ini dengan konselor atau psikolog kepercayaan mu. Tidak ada yang salah untuk membicarakan keadaan yang mengganggumu dengan ahlinya. Kamu pun dapat menggunakan layanan konseling dan terapi yang ada di Asisya Consulting.

Sumber:

Gilovich, T., Medvec, V. H., & Savitsky, K. (2000). The spotlight effect in social judgment: An egocentric bias in estimates of the salience of one’s own actions and appearance. Journal of Personality and Social Psychology, 78(2), 211–222. doi:10.1037/0022-3514.78.2.211  

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-big-questions/201111/the-spotlight-effect

]]>
https://asisyaconsulting.com/merasa-semua-orang-memperhatikanmu-tunggu-dulu-mungkin-itu-spotlight-effect/feed/ 0
Teman Kamu Sering Berlagak Sok Hebat? Kena Efek Dunning-Kruger Tuh! https://asisyaconsulting.com/teman-kamu-sering-berlagak-sok-hebat-kena-efek-dunning-kruger-tuh/ https://asisyaconsulting.com/teman-kamu-sering-berlagak-sok-hebat-kena-efek-dunning-kruger-tuh/#respond Mon, 21 Jun 2021 10:54:58 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=461 Sumber: Freepik.com

Oleh Tri Sulastri

Sahabat Asisya, kalian punya gak sih teman atau keluarga yang sering melebihkan kemampuan mereka yang mungkin sebenarnya tidak sesuai dengan perkataannya? Bahkan orang tersebut tak jarang merendahkan orang lain karena merasa dirinya paling hebat? Hm, bikin kesal dan jengkel gak sih?

Bukan tanpa sebab, ternyata dalam dunia psikologi fenomena ini disebut sebagai Efek Dunning-Kruger. Tahukah kalian apa itu?

Apa itu Efek Dunning-Kruger?

Efek Dunning-Kruger mengacu pada kondisi dimana seseorang keliru menilai kemampuannya dengan merasa bahwa diri mereka lebih baik dari yang sebenarnya. Individu yang mengalami efek ini tidak mampu untuk mengenali kemampuannya. Menurut Dunning (2011), fenomena ini merupakan bentuk meta-ignorance yang ada pada masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Artinya cukup umum ditemukan di sekitar kita.

Istilah efek Dunning-Kruger diambil dari nama dua peneliti fenomena ini yaitu David Dunning dan Justin Kruger. Mereka mengembangkan teori ini melalui penelitian yang dilakukan pada 1999 untuk melihat sejauh mana partisipan mengenali kemampuan mereka. Hasilnya menunjukkan mereka yang memiliki hasil tes yang rendah melebih-lebihkan kemampuan mereka (Kruger & Dunning, 1999).

Apa penyebab Efek Dunning-Kruger?

Penyebab utama dari efek ini ialah kurangnya kemampuan dan pengetahuan. Hal ini membuat individu tersebut memiliki metacognitive yang kurang. Dalam psikologi, metacognitive merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui seberapa baik kinerjanya.

Akibat kurangnya metacognitive ini, individu mulai merasa percaya diri dan mengembangkan kepercayaan yang salah bahwa mereka memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Jika hal ini sudah terjadi, seterusnya rasa percaya diri individu akan semakin berlebihan yang berujung pada overestimated terhadap kinerjanya.

Apa dampak Efek Dunning-Kruger?

Kruger dan Dunning menyebutkan akibat dari efek Dunning-Kruger ini yaitu bukan hanya individu akan menunjukkan kinerja yang buruk. Namun, efek inipun membuat individu tidak dapat mengenali kemampuannya sehingga tidak dapat belajar dan berkembang.

Selain itu, seperti yang telah dijelaskan jika efek ini membuat individu memiliki kepercayaan diri dan kerap kali melebih-lebihkan kemampuannya. Individu tersebut mungkin akan berpikir bahwa mereka lebih baik dari orang lain hingga berpotensi tidak disukai oleh orang di sekitarnya.

Lalu, gimana caranya agar terhindar dari Efek Dunning-Kruger?

Dilansir dari Journal of Personality and Social Psychology, meningkatkan keterampilan dan kompetensi metakognitif menjadi cara utama untuk terhindar dari efek Dunning-Kruger. Selain itu beberapa cara dibawah ini pun dapat anda lakukan untuk menghindari fenomena ini antara lain:

  1. Terus berlatih dan belajar.
  2. Tantang pengetahuan anda mungkin dengan menjawab pertanyaan seputar keterampilan atau di luar itu. Hal ini mungkin bisa menyadari kita bahwa masih banyak yang perlu dipelajari dan mengurangi asumsi kita bahwa kita tahu semuanya.
  3. Meminta evaluasi dari rekan atau atasan anda. Saran dan kritik yang membangun dari mereka akan membantumu untuk mendapat hasil yang lebih baik.
  4. Jangan memaksa pendapat anda sebab semua orang memiliki hak yang sama untuk berpendapat.

Itulah informasi mengenai efek Dunning-Kruger yang ternyata sangat sering kita temui di sekitar kita. Tidaklah masalah jika memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan yang kita miliki. Namun, akan jadi masalah jika kita salah menilai dan meyakini kemampuan dengan melebih-lebihkan dari yang sebenarnya.

Jika cara-cara tersebut masih terasa sulit untuk dilakukan, anda dapat bertanya atau berkonsultasi dengan konselor atau psikologi di Asisya Consulting.

 

Sumber:

Kruger, J., & Dunning, D. (1999). Unskilled and unaware of it: How difficulties in recognizing one’s own incompetence lead to inflated self-assessments. Journal of Personality and Social Psychology, 77(6), 1121–1134. doi:10.1037/0022-3514.77.6.1121 

]]>
https://asisyaconsulting.com/teman-kamu-sering-berlagak-sok-hebat-kena-efek-dunning-kruger-tuh/feed/ 0
Mengenal Solomon’s Paradox: Bijak Terhadap Masalah Orang Lain Daripada Masalah Sendiri https://asisyaconsulting.com/mengenal-solomons-paradox-bijak-terhadap-masalah-orang-lain-daripada-masalah-sendiri/ https://asisyaconsulting.com/mengenal-solomons-paradox-bijak-terhadap-masalah-orang-lain-daripada-masalah-sendiri/#respond Fri, 18 Jun 2021 13:37:30 +0000 https://asisyaconsulting.com/?p=458 Sumber: freepik.com

Oleh Tri Sulastri

Sahabat Asisya pernah gak sih kalian merasa bahwa kalian menjadi lebih bijak dalam melihat permasalahan temanmu? Namun ketika kamu dihadapkan pada suatu masalah, kamu tidak bisa menyelesaikannya bahkan meminta saran dari temanmu.

Salah satu kasus yang sering terjadi adalah ketika seseorang meminta saran mengenai hubungan asmara pada temannya. Sementara teman yang dimintai saran tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri atau bahkan tidak sedang terlibat dalam hubungan asmara (re: jomblo).

Inilah yang disebut oleh Igor Grossman dalam Journal of Psychological Science sebagai Paradoks Solomon.

Apa itu Paradoks Solomon?

Paradoks Solomon merupakan istilah yang menggambarkan ketika individu lebih bijak dalam menyelesaikan masalah orang lain daripada masalahnya sendiri.

Dilansir dari Journal of Psychological Science, istilah ini diambil dari nama raja Israel ketiga yaitu Raja Solomon. Semasa pemerintahannya, raja dikenal sebagai orang paling bijak. Rakyatnya pun rela datang dari tempat yang jauh untuk meminta nasihatnya.

Namun, ketika ada masalah dalam hidupnya, Raja Solomon tidak bisa menyelesaikannya. Hal ini pun menjadi salah satu alasan dibalik kehancuran kerajaannya.

Kemudian istilah paradoks Solomon diperkenalkan oleh Igor Grossman, seorang ilmuwan psikologi University of Waterloo. Dalam penelitiannya, ia melakukan eksperimen dengan sekelompok orang yang berada dalam hubungan asmara jangka panjang.

Grossman membagi partisipan menjadi dua kelompok dimana kelompok pertama membayangkan bahwa pasangannya selingkuh. Sementara kelompok kedua diminta untuk membayangkan pasangan temannya selingkuh. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok kedualah yang lebih bijak.

Tapi kenapa ya bisa seperti itu?

Ketika Anda berusaha untuk memecahkan masalah orang lain, Anda memberi jarak antara diri kamu dengan masalah tersebut. Hal inilah yang disebut oleh Grossman sebagai self-distancing.

Saat melakukan self-distancing, Anda cenderung untuk memisahkan diri dari masalah atau peristiwa tersebut sehingga akan mampu berpikir secara lebih rasional.

Sementara, ketika Anda yang mengalami masalah itu sendiri, Anda cenderung fokus pada diri sendiri dan larut dalam masalah yang dialami. Hal ini disebut sebagai self-immersed.

Individu dengan perspektif self-immersed akan melihat masalah dari perspektif egosentris atau pusat pemikirannya. Individu ini akan kesulitan mengatasi masalah sebab tidak bisa melihat masalah tersebut dalam sudut pandang objektifnya. Mereka mungkin terlalu larut dan takut dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi daripada menganalisa penyebab dan solusinya.

Itulah mengapa orang yang tidak berada dalam masalah tersebut bisa lebih bijak dalam memberikan nasihat untuk menyelesaikannya. Maka ketika Anda dihadapkan masalah, cobalah untuk memposisikan diri Anda sebagai orang lain agar bisa melihat masalah dengan objektif dan lebih bijak. 

Jika kamu memiliki pertanyaan mengenai masalahmu, kamu bisa menceritakannya ke psikolog dan konselor Asisya Consulting.

Sumber:

Grossman, I., & Kross, E. 2014. Solomon’s Paradox: Self-Distancing Eliminates the Self-Other Asymmetry in Wise Reasoning About Close Relationships in Younger and Older Adults. Journal of Psychological Science, Vol. 25 (8), hal. 1571-1580. doi: 10.1177/0956797614535400

 

 

]]>
https://asisyaconsulting.com/mengenal-solomons-paradox-bijak-terhadap-masalah-orang-lain-daripada-masalah-sendiri/feed/ 0