Pandemi COVID-19 mengakibatkan berbagai perubahan salah satunya ialah budaya stay at home atau tetap di rumah. Mulai dari kerjaan yang memberlakukan Work From Home (WFH) hingga sector pendidikan yang dilaksanakan secara daring.
Ketika kita berada di rumah saja, waktu luang yang dimiliki bertambah lebih dari biasanya saat telah menyelesaikan pekerjaan maupun belajar daring. Banyaknya waktu yang tersisa memungkinkan untuk memunculkan rasa jenuh bahkan stress pada sebagian orang.
Tapi Sahabat Asisya, di rumah saja bukan berarti membatasi kita menjadi pribadi yang produktif. Kita bisa loh untuk tetap produktif dengan memanfaatkan waktu luang tersebut. Berikut ini ada beberapa cara yang bisa kamu ikuti untuk mengurangi rasa jenuh dan tetap produktif selama di rumah saja.
Menjalani aktivitas sehari-hari dimana kita pergi ke kantor dan pulang pada sore atau bahkan malam hari, terkadang kita tidak sempat untuk memperhatikan kesehatan.
Padahal kesehatan merupakan hal terpenting dalam situasi seperti ini. Dengan tubuh yang sehat pun, kita dapat melakukan berbagai kegiatan dengan penuh semangat.
Maka ketika banyak kegiatan yang dilakukan di rumah cobalah untuk menyempatkan melakukan olahraga. Misalnya yoga atau workout yang dapat dilakukan dari rumah. Bukan hanya itu, kamu pun bisa coba untuk lebih memperhatikan pola makan mu yang mungkin tidak sempat kamu lakukan ketika situasi di luar pandemic.
Kelamaan di rumah saja bisa membuat bosan dan jenuh. Untuk mengatasi itu, mungkin beberapa dari kalian melakukannya dengan ‘jajan’ atau memesan makanan cepat saji fast food.
Tidak ada yang salah jika kamu memesan hanya seskali, namun jika terus dilakukan dapat bisa membahayakan kesehatanmu.
Waktu senggang saat di rumah bisa kamu gunakan untuk mencoba berbagai resep makanan yang belum pernah kamu coba.
Dengan begitu kamu juga dapat meningkatkan kemampuan memasakmu dan mengurangi pengeluaran sehari-hari.
Mulai dari sebelum kamu tidur atau saat kamu bangun di pagi hari, cobalah untuk merencanakan sehari penuh.
Apa yang akan kamu lakukan untuk hari ini? Berapa lama kamu akan melakukannya? Setelahnya apa yang akan kamu lakukan?
Kamu dapat memulai dengan pertanyaan tersebut. Jangan lupa memberikan waktu istirahat. Hal ini menjadi penting untuk mengisi tenaga kembali setelah terkuras akibat aktivitas sebelumnya.
Mengatur rencana ini dapat juga kamu lakukan dengan membuat daftar yang disertai tujuan dan prioritasmu. Dengan begitu, kamu bisa lebih fokus dan disiplin.
Memiliki waktu senggang saat di rumah saja menjadi momen yang paling pas untuk kamu mencoba hal-hal baru yang belum pernah atau tidak sempat kamu lakukan.
Misalnya seperti bermain music, bernyanyi, melukis, bercocok tanam, belajar bahasa baru, berjualan secara daring dsb.
Kamu dapat mencoba hal-hal yang ingin kamu lakukan. Siapa tahu kamu dapat menemukan bakat terpendam mu. Bahkan menemukan peluang bisnis yang dapat menambah keuanganmu.
Ketika mencoba untuk produktif di rumah mungkin terasa lebih berat saat di kantor atau di sekolah.
Namun ketika berada di lingkungan rumah, kamu mungkin akan mendapati berbagai gangguan seperti kebisingan dari tetangga atau notifikasi media sosial, dsb.
Jika itu gangguan dari luar dirimu maka kamu dapat mengatasinya dengan masuk ke kamar atau membuat setting tempat yang nyaman untuk mu bekerja.
Lain halnya jika gangguan dari dalam diri yang mungkin terjadi sebab tidak ada pihak pengawas berbeda dengan kantor atau sekolah dalam hal ini misalnya atasan atau guru. Mereka yang mungkin akan menegurmu ketika hilang fokus tidak ditemukan di rumah.
Mematikan notifikasi ketika bekerja atau belajar menjadi hal yang patut dicoba untuk kembali fokus pada pekerjaanmu.
Itulah beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk tetap produktif selama di rumah saja. Jika kamu masih memiliki kesulitan dalam kegiatan sehari-hari, kamu dapat berkonsultasi dengan psikolog dan konselor terpercaya dari Asisya Consulting.
]]>Oleh Tri Sulastri
COVID-19 merupakan pandemic atau wabah penyakit yang secara tiba-tiba menjangkit seluruh dunia sejak 2019 lalu. Segala perubahan dan kebijakan ditetapkan dalam upaya menghentikan laju penyebaran wabah ini.
Berbagai dampak terjadi diakibatkan pandemic ini salah satunya adalah gangguan kesehatan mental. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mencatat pada 5 bulan pandemic yaitu sejak April – Agustus 2021, sebanyak 64,8 persen dari 4010 pengguna swaperiksa di web PDSKJI mengalami masalah psikologis.
Swaperiksa itu sendiri merupakan layanan dari PDSKJI berupa pemeriksaan kesehatan mental yang dapat dilakukan oleh penggunanya sendiri. Kemudian jika hasilnya terdapat gejala gangguan psikologis dapat menghubungi tenaga psikolog yang disediakan oleh PDSKJI.
Dari hasil swaperiksa tersebut masalah psikologis yang dialami antara lain 65 persen kecemasan, 62 persen depresi, 75 persen trauma psikologis, dan 1 dari 5 orang (44 persen dari penderita depresi) memiliki pemikiran untuk bunuh diri. PDSKJI pun mencatat bahwa gangguan kesehatan mental ini paling banyak menyerang perempuan yaitu 71 persen sementara laki-laki 29 persen. Gangguan ini pun ditemukan pada kelompok usia paling rentan mengalami masalah psikologis antara lain 17 – 29 tahun dan diatas 60 tahun.
Gangguan kecemasan dalam DSM-IV-TR ditandai oleh kekhawatiran terus menerus yang sulit dikendalikan hingga mengalami kelelahan mental, mudah marah, gangguan tidur dan otot.
Hal ini serupa dengan hasil yang dipaparkan oleh PDSKJI. Dalam surveynya mereka menyatakan bahwa gejala yang dialami responden berupa pemikiran sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir berlebihan, mudah marah atau jengkel, dan sulit rileks.
Sementara gejala depresi ditandai perasaan sedih dan tertekan hingga kehilangan minat atau kesenangan pada suatu aktivitas, sulit tidur, kehilangan energi, nafsu makan berkurang, memandang diri secara negatif, dan memiliki pemikiran tentang bunuh diri.
Tanda-tanda tersebut sama dengan gejala depresi yang ditemukan oleh PDSKJI pada pengguna swaperiksa berupa gangguan tidur, kurang percaya diri, lebih tidak bertenaga, dan kehilangan minat terhadap sesuatu. Hal ini mereka rasakan lebih dari separuh waktu dalam 2 minggu terakhir.
Pemberitaan banyaknya korban meninggal akibat COVID-19 atau peristiwa-peristiwa lainnya bahkan mengalami sendiri kerugian akibat pandemi ini menyebabkan gejala stress pasca trauma (PTSD) pada sebagian orang.
Dalam survey yang dilakukan PDSKJI, ditemukan sebanyak 80 persen dari 182 pengguna swaperiksa memiliki gejala PTSD karena menyaksikan atau mengalami peristiwa terkait COVID-19.
Gejala yang dialami diantaranya 46 persen gejala berat, 33 persen gejala sedang, dan 2 persen gejala ringan serta 19 persen tidak memiliki gejala. Sementara untuk gejala yang paling menonjol adalah merasa berjarak dan terpisah dari orang lain, mati rasa, merasa terus waspada, mudah marah, sulit tidur, dan kesulitan berkonsentrasi.
Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun meninggalkan banyak kejadian tidak menyenangkan penyebab gangguan psikologis pada banyak orang. Gangguan yang tidak segera ditangani atau bahkan hanya dibiarkan dapat menyebabkan masalah yang lebih besar.
Jika kamu merasakan gejala gangguan psikologis yang mulai mengganggu aktivitasmu, segeralah mencari pertolongan konselor atau psikolog. Asisya Consulting menyediakan layanan konseling dan terapi psikologis bagi kamu yang ingin mencari pendampingan psikologis.
Sumber:
Davison, dkk. 2018. Psikologi Abnormal. Depok: Rajawali Pers.
]]>